BUKU PERJALANAN DINAS UNDERCOVER

2 Komentar

Iklan

BUKU ESAI-ESAI KEPARIWISATAAN : MOPoBiBi

Tinggalkan komentar

Buku Esai-Esai Kepariwisataan

MOPoBiBi

YUSRAN  LAPANANDA

Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga & Pariwisata

Pendahuluan

Saat ini pemerintah daerah tak henti-hentinya berinovasi dan berkreasi dalam mengembangankan pembangunan kepariwisataan baik melalui industri pariwisata, destinasi pariwisata, pemasaran dan kelembagaan kepariwisataan. Hal ini terlihat dari berbagai macam kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah baik kebijakan dalam pembangunan infrastruktur kepariwisataan, pemasaran atau promosi serta produk ekonomi kreatif masyarakat. Berbagai ragam inovasi maupun kreasi hasil cipta pelaku maupun pencinta pariwisata dalam bentuk produk maupun saran dan pendapat pun di dorong dan dijadikan kebijakan kepariwisataan daerah.

Dalam konteks ini, sekelompok masyarakat yang berpendidikan pas-pasan, segelintir milenial bergelar strata bawah dengan beragam macam pendidikan, dan beberapa orang anak muda mencoba merancang slogan yang mudah dilukis menjadi graffiti, unik, gampang diingat, bernilai jual wisata, gratis tanpa dibayar, tanpa lelang, tanpa penunjukan langsung, atau tanpa pemilihan langsung, tanpa melalui Focus Group Discussion, tanpa diuji secara akademis dengan melahirkan slogan “MOPoBiBi”. MOPoBiBi hanyalah slogan ringan dan sederhana. MOPoBiBi bukanlah branding sesungguhnya tapi slogan saja. MOPoBiBi hanyalah slogan yang dikemas dengan beradaptasi pada era disruptif, era digital atau era Revolusi Industri 4.0. MOPoBiBi hanyalah permainan huruf, kata yang disatukan dalam kalimat.

MOPoBiBi, satu inovasi dan kreasi yang dihasilkan dari keikhlasan dan keinginan untuk mengembangkan, memasarkan hingga mempromosikan objek-objek pariwisata di Kabupaten Gorontalo. MOPoBiBi dilahirkan dengan niat “zonk”, tanpa uang, tanpa janji-janji, tanpa balas budi via beragam macam kebijakan yang miring melalui pemberian proyek-proyek maupun beban “titipan” belanja perjalanan dinas kepada orang-orang yang tidak berhak mupun penggunaan fasilitas Negara (barang milik daerah) secara gratis, serta tanpa dilandasi dengan waham dan halusinasi serta kebiasaan dukung mendukung sesama teman maupun kelompok.

Seketika MOPoBiBi diperkenalkan melalui media social beberapa pekan lalu, beragam tanggapanpun bermunculan. Pro dan kontra atas slogan MOPoBiBi melanda. Yang pro pun bermunculan bak jamur hidup dimusim hujan, seperti lapak takjil yang terlihat dipinggiran jalan disaat bulan ramadhan. Like dan komentar melalui media sosial menggema, berbagai artikel mengenai MOPoBiBi terbit baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris, baik dalam negeri maupun luar negeri terpublikasi. Pokoknya mantap dan kerennn menghiasi komentar mereka.

Yang kontra pun tak ketinggalan berkomentar, mulai dari yang berpendidikan hingga pimpinan lembaga pun ikut serta berpendapat dan memberi saran perbaikan guna penyempurnaannya. Komentar, saran dan pendapat diulas dengan pendekatan latar belakang keilmuan ketinggian dalam bingkai arti mopobibi dalam kebahasaan, yang ujung-ujungnya mengarah pada mopobibi atau menyombongkan kemampuan yang sesungguhnya.

Adapula sekelompok orang yang hanya membaca saja MOPoBiBi, diam dan membisu, senyum hingga ketawa dan geleng-geleng kepala hingga mengelus dada, tanpa harus berpolemik dan tidak mau terlibat ke area pro dan kontra. Adapula segelintir orang membaca MOPoBiBi akan tetapi mencoba ingin bertanya secara langsung tentang arti dan akronim dari MOPoBiBi.

Pro dan kontra, maupun setuju atau tidak setuju atas slogan MOPoBiBi atau mopobibi merupakan bagian dari menjadikan slogan ini semakin meresonansi dalam ruang publik, membumi dan mendunia. Tentunya, apapun komentar, saran dan pendapat mereka sangatlah baik guna penyempurnaan atas slogan MOPoBiBi dalam ruang yang meresonansi.

Akronim MOPoBiBi

Tak dapat dihindari slogan MOPoBiBi adalah sesuatu objek yang menjadi bahan pembicaraan, diskusi hingga perdebatan baik dari arti maupun makna kebahasaan. Sesungguhnya slogan MOPoBiBi adalah konsep yang sangat ringan dan sederhana yang tidak seharusnya dibahas dan diulas menjadi sesuatu yang sulit untuk dipahami dan diterima oleh akal sehat.

MOPoBiBi hanyalah permainan huruf dan kata yang dirangkai menjadi satu kesatuan dalam sebuah kalimat aktif yang memberi semangat dan mengajak kita semua baik aparatur sipil Negara dilingkungan Dinas Kepemudaan, Olaharga dan Pariwisata secara khusus, ASN dilingkungan Pemerintah Kabupaten Gorontalo dan secara umum masyarakat Kabupaten Gorontalo, pengusaha pariwisata, pelaku ekonomi kreatif serta orang perorang, kelompok atau badan hukum dan para pencinta wisata Kabupaten Gorontalo untuk memajukan wisata Kabupaten Gorontalo dan ekonomi masyarakat.

MOPoBiBi merupakan akronim dari Memajukan Objek Pariwisata kabupaten gorontalO yang BerImplikasi dan Bermanfaat bagi ekonomI masyarakat. Itu saja akronim dari MOPoBiBi. Dan yang ingin membuat akronim lainnya dari MOPoBiBi atau membuat slogan lainnya disilahkan demi kemajuan wisata Kabupaten Gorontalo.

Arti Mopobibi

Pembicaraan, diskusi hingga perdebatan mengenai mopobibi lebih dasyat ketika didorong dan dipaksakan kearah pemaknaan kedalam bahasa, bahasa Gorontalo dan bukan pada makna akronim MOPoBiBi. Perdebatan mopobibi lebih dibawah kearti mopobibi pada pemaknaan negatif yaitu menyombongkan.

Secara sederhana arti mopobibi terlihat didalam Kamus Bahasa Gorontalo-Indonesia oleh Mansoer Pateda, Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional terbitan Balai Pusataka, Jakarta 2001 pada halaman 26. Mopobibi berarti melagakkan. Selanjutnya arti melagakkan dapat dibaca pada Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga oleh Departemen Pendidikan Nasional terbitan Balai Pusataka, Jakarta 2005 pada halaman 624. Melagakkan diartikan kedalam dua pengertian menyombongkan dan memperagakan.

Dalam kamus ini, memperagakkan diartikan dengan memamerkan (baju, topi, sepatu dsb) dengan contoh kalimat, “ia akan memamerkan pakaian batik”. Dan menyombongkan diartikan dengan memegahkan (diri); membanggakan; dan membualkan.

Dalam kamus inipun melagakkan dimaknai dalam contoh kalimat, “ia suka sekali melagakkan kebolehannya bermain silat”. Akal sehat saya dalam memaknai kalimat ini pada arti melagakkan pada memperagakan dan memamerkan bukan pada menyombongkan. Sehingga bagi saya kalimatnya menjadi, “ia suka sekali memperagakan/memamerkan kebolehannya bermain silat”, dan bukan pada makna “ia suka sekali menyombongkan kebolehannya bermain silat”. Tergantung akal sehat yang mana yang akan digunakan.

Sehingga bagi saya jikalau arti mopobibi dimaknai kedalam bahasa Gorontalo, maka keliru dan tak mungkin akal sehat kita mengartikan slogan mopobibi wisata kabupaten gorontalo identik dengan “menyombongkan wisata kabupaten gorontalo”, alangkah bijkanya akal sehat kita akan mengartikan slogan mopobibi wisata kabupaten gorontalo identik dengan “memamerkan wisata kabupaten gorontalo”.

MOPoBiBi Wisata Kabgor

Slogan MOPoBiBi Wisata Kabgor atau Kabupaten Gorontalo yang semakin meresonansi, membumi dan mendunia merupakan akronim dari Memajukan Objek Pariwisata kabupaten gorontalO yang BerImplikasi dan Bermanfaat bagi ekonomI masyarakat, dan slogan mopobibi atau MOPOBIBI dapat diartikan dengan akal sehat sebagai “Memamerkan Wisata Kabupaten Gorontalo”. Itu saja, kata si akal sehat.

Memajukan Wisata Kabupaten Gorontalo bukanlah perkara mudah. Memajukan objek-objek pariwisata butuh keseriusan dari semua pihak. Mengembangkan pariwisita dengan mengharapkan efek ekonomi masyarakat dari pariwisata butuh keikhlasan untuk mempelajari dan memahaminya. Memajukan pariwisata butuh pelibatan semua pihak, pihak-pihak terkait, pemerintah, pemerintah daerah terutama perangkat daerah (Badan Kepegawaian Daerah atas penempatan ASN, BAPEDA dan Badan Keuangan atas perencanaan anggaran serta Dinas Lingkungan Hidup atas kebersihan), perbankan atas permodalan, pengusaha pariwisata, pelaku ekonomi kreatif, masyarakat, lembaga kepariwisataan (PHRI/Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia); (ASITA/Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies); (HPI/Himpunan Pramuwisata Indonesia) dan para pencinta wisata didaerah ini.

Bagi Negara kita di tahun 2018, sektor pariwisata (turis asing) menjadi penyumbang devisa terbesar kedua setelah minyak sawit mentah yang selanjutnya disusul oleh ekspor tekstil, ekspor migas dan ekspor batubara. Selain itu industri pariwisata merupakan lokomotif dan pembangkit tenaga kerja yang luar biasa. Oleh karena itu sektor pariwisata harus dikelola dengan serius, sehingga pariwisata dapat terus menjadi kontributor untuk pertumbuhan ekonomi dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Dipahami devisa negara itu adalah salah satu pilar yang menunjukkan kekuatan ekonomi sebuah negara. Devisa merupakan kekayaan sebuah negara dalam bentuk valuta asing (biasanya dalam dollar) dan bisa digunakan untuk transaksi internasional. Makin tinggi cadangan devisa yang dikantongi negara, maka makin tajir kekuatan ekonomi negara itu. Sumber devisa yang paling utama sektor pariwisita adalah belanja wisatawan asing yang melancong ke tanah air.

John M. Bryden dalam Abdurrachmat dan E. Maryani, menjelaskan suatu penyelenggaraan kegiatan pariwisata dan objek wisata dapat memberikan dampak, yaitu: a. penyumbang devisi Negara; b. menyebarkan pembangunan; c. menciptakan lapangan kerja; d. memacu pertumbuhan ekonomi melalui dampak penggadaan (multiplier effect); e. wawasan masyarakat tentang bangsa-bangsa dunia semakin luas; f. mendorong semakin meningkatnya pendidikan dan ketrampilan penduduk.

Secara umum pengembangan pariwisata memberi dampak atau berimplikasi dan bermanfaat bagi bertambahnya kesempatan berusaha, memperluas lapangan kerja, meningkatkan pendapatan, terpeliharanya dan terkenalnya kebudayaan.

Bagi pemerintah daerah urusan pariwisata sangatlah penting untuk dikembangkan. Bupati Gorontalo, Prof. Dr. Ir. Nelson Pomalingo, M.Pd. disetiap kesempatan yang bertalian dengan kegiatan kepariwisataan dan ekonomi kreatif menyampaikan, “pariwisata adalah penggerak ekonomi masyarakat yang paling cepat dibandingkan bidang, sektor maupun urusan pemerintah daerah lainnya”.  Memajukan objek-objek pariwisata di daerah sama dengan membuka lapangan kerja, menggerakan ekonomi masyarakat dan sekaligus penyumbang pendapatan asli daerah paling banyak melalui pajak daerah (pajak hotel, pajak restoran, pajak hiburan dan pajak parkir) dan retribusi daerah (retribusi pemakaian kekayaan daerah, retribusi tempat rekreasi dan olahraga, serta retribusi dari parkir), dibandingkan satuan kerja pemerintah daerah lainnya.

Lebih lanjut, kegiatan pariwisata identik dengan bersenang-senang. Orang berwisata ingin menyenangkan rasa dengan belanja souvenir, menyenangkan pikiran dan menyenangkan mata dengan melihat pesona objek wisata, menyenangkan telinga dengan mendengar kicauan burung-burung dan suara alam lainnya serta music, dan menyenangkan perut dengan berbagai rasa kuliner.

Manfaat pariwisata bagi ekonomi masyarakat secara kasat mata terlihat dari kegiatan wisata dan orang berwisata. Orang berwisata dipastikan membawa keluarga maupun sahabat, berkendaraan, dan yang pasti membawah uang. Orang berwisata pasti berbelanja atau bertransaksi, belanja jasa tenaga kerja, berbelanja souvenir dan berbelanja makanan dan minuman ditempat wisata yang dijual oleh masyarakat setempat. Dan pariwisata berimplikasi pula bagi pemerintah daerah melalui penerimaan daerah. Orang berwisata pasti membayar karcis masuk, membayar parkir, menyewa penginapan dan lain sebagainya.

Untuk memajukan pariwisata Kabupaten Gorontalo melalui MOPoBiBi Wisata Kabgor butuh akal sehat. Mari kita wujudkan pariwisata Kabupaten Gorontalo yang berimplikasi dan bermanfaat bagi ekonomi masyarakat serta berkontribusi bagi penerimaan daerah melalui pajak daerah dan retribusi daerah dan demi penciptaan lapangan kerja, pertumbuhan ekonomi serta untuk pengentasan kemiskinan menuju kemandirian daerah Kabupaten Gorontalo.

Penutup

MOPoBiBi bukanlah mopobibi, dan mopobibi bukan pula sebagai MOPoBiBi. MOPoBiBi dapat dimaknai sebagai mopobibi, namun mopobibi tak dapat dimaknai sebagai MOPoBiBi.

Akal sehat memaknai mopobibi sebagai sesuatu yang positif, yang berarti melagakkan, memperagakan hingga memamerkan dan bukan sesuatu yang negatif “menyombongkan”. MOPoBiBi merupakan akronim dari Memajukan Objek Pariwisata kabupaten gorontalO yang BerImplikasi dan Bermanfaat bagi ekonomI masyarakat.

Enam Mei 2019 M bertepatan dengan Satu Ramadhan 1440 H , mohon maaf lahir dan bathin.(*)

BUKU AKU, KAU, KALIAN DAN KITA SEMUA : HUKUM SESA(A)T

Tinggalkan komentar

Buku Aku, Kau, Kalian dan Kita Semua

HUKUM SESA(A)T

YUSRAN  LAPANANDA

Perasa Masalah Hukum, Sosial & Kebijakan Publik

Bagi aku, kau, kalian dan kita semua akan merasa kaget dan heran dengan judul artikel ini, “hukum sesa(a)t”. Dalam pikiran dan rasa aku, kau, kalian dan kita semua, muncul berbagai macam tafsir atau interprestasi, jangan-jangan tulisan ini sesuatu yang sesat atau sesuatu yang memprovokasi sebagaimana pikiran dan rasa sebagaian manusia yang membaca artikel saya.

Apalagi dalam dunia hukum, dunia hukum menghukum, maupun dalam hal berbangsa dan bernegara aku, kau, kalian dan kita semua hanya mengenal hukum tertulis dan hukum tidak tertulis, hukum poisitif (Ius Constitutum), hukum public dan hukum privat (sipil), hukum materiil dan hukum formil, hukum pidana, hukum perdata, hukum tata Negara, hukum dagang, hukum acara perdata, hukum acara pidana, hukum acara tata usaha Negara, hukum militer, hukum keuangan Negara/daerah, hukum agraria, hukum pajak, hukum nasional dan hukum internasional, hukum tata usaha Negara, hukum adat. Juga dikenal beragam frasa hukum, hukum rimba, hukum karma, hukum alam, hukum tarik menarik (law of attraction) dan beragam macam frasa hukum lainnya.

Frasa hukum sesa(a)t tak pernah ditemukan dalam berbagai literatur, referensi maupun dalam berbagai Kamus Indonesia baik Kamus Hukum maupun Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Hukum sesa(a)t merupakan diksi atau narasi yang saya pilih dari artikel ini yang akan mengelobarasi perihal peraturan perundang-undangan yang diberlakukan oleh penguasa hanya sesaat baik secara periodisasi, tahunan, bulanan yang terbatas oleh waktu. Saya pun memberi arti hukum sesa(a)t adalah peraturan perundangan-undangan yang hanya berlaku untuk waktu tertentu dan tidak berlaku selamanya sebelum dicabut atau diganti atau tidak diberlakukan lagi. Hukum sesa(a)t adalah hukum yang berlaku sementara.

Diantara aku, kau, kalian dan kita semua tidak menyadari banyak peraturan perundang-undangan yang kita lihat, baca dan kaji ternyata hanyalah hukum  sementara atau peraturan perundang-undangan hanya berlaku sesaat, berlaku setahun sesuai tahun anggaran atau berlaku beberapa bulan sesuai dengan masa kontrak atas suatu kegiatan. Berikut ini aku, kau, kalian dan kita semua akan menguji berbagai ragam hukum sesaat atau hukum sementara yang saya sudah narasikan diatas dengan diksi hukum sesa(a)t.

Hukum sesaat pertama, adalah Peraturan Menteri Dalam Negeri tentang Pedoman Penyusunan APBD yang diterbitkan setiap tahun oleh Menteri Dalam Negeri untuk melaksanakan ketentuan pasal 34 ayat (2) PP Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah. Contohnya Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 38 Tahun 2018 tentang Pedoman Penyusunan APBD Tahun Anggaran 2019. Permendagri ini berlaku sesaat hanya untuk penyusunan APBD tahun anggaran 2019. Permendagri ini tidak berlaku untuk penyusunan APBD tahun anggaran 2020 dan selanjutnya atau tidak berlaku untuk penyusunan APBD tahun anggaran 2018 kebawah Permendagri tentang Pedoman Penyusunan APBD setiap tahun berubah maupun berganti.

Hukum sesaat pertama, adalah Peraturan Menteri Dalam Negeri tentang Pedoman Penyusunan APBD yang diterbitkan setiap tahun oleh Menteri Dalam Negeri untuk melaksanakan ketentuan pasal 34 ayat (2) PP Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah. Contohnya Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 38 Tahun 2018 tentang Pedoman Penyusunan APBD Tahun Anggaran 2019. Permendagri ini berlaku sesaat hanya untuk penyusunan APBD tahun anggaran 2019. Permendagri ini tidak berlaku untuk penyusunan APBD tahun anggaran 2020 dan selanjutnya atau tidak berlaku untuk penyusunan APBD tahun anggaran 2018 kebawah. Permendagri tentang Pedoman Penyusunan APBD setiap tahun berubah maupun berganti.

Hukum sesaat kedua, adalah Peraturan Menteri Dalam Negeri tentang Kebijakan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah yang diterbitkan setiap tahun oleh Menteri Dalam Negeri sebagai rencana pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah tahunan yang meliputi fokus, sasaran dan jadwal pelaksanaan pengawasan. Contohnya Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 35 Tahun 2018 tentang Kebijakan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Tahun 2019. Permendagri ini berlaku sesaat hanya untuk penyusunan rencana pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah tahunan yang meliputi fokus, sasaran dan jadwal pelaksanaan pengawasan Tahun 2019.

Hukum sesaat ketiga, adalah Peraturan Menteri Dalam Negeri tentang Penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah yang diterbitkan setiap tahun oleh Menteri Dalam Negeri. Contohnya Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 22 Tahun 2018 tentang Penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah Tahun 2019. Permendagri ini berlaku sesaat hanya untuk penyusunan RKPD Tahun 2019.

Hukum sesaat keempat, adalah Undang-Undang tentang APBN dan Peraturan Daerah tentang APBD. UU tentang APBN hanya berlaku sesaat atas rencana pendapatan dan belanja Negara tahun berkenaan. Demikian pula untuk Perda tentang APBD hanya berlaku sesaat atas rencana pendapatan dan belanja daerah tahun berkenaan.

Hukum sesaat kelima, adalah berbagai macam Keputusan Kepala Daerah yang berkenaan dengan penetapan para pejabat pengelola keuangan daerah dalam pelaksanaan APBD yang mulai berlaku sesaat untuk jangka waktu 1 (satu) tahun anggaran, 1 Januari hingga 31 Desember sebagaimana amanat Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahin 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah beserta perubahannya. Ada pula berbagai macam Keputusan Kepala Daerah berkenaan dengan penetapan tim-tim atau sebutan lainnya maupun honor-honor yang berlaku untuk selama 1 (satu) tahun anggaran, maupun yang hanya berlaku beberapa bulan saja tergantung kebutuhan dan kemampuan keuangan daerah. Juga berbagai macam naskah dinas lainnya seperti surat edaran tentang pelaksanaan APBD yang hanya berlaku sesaat berkenaan dengan tahun anggaran.

Dan beragam macam peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan oleh penguasa di pusat berupa UU, PP, Peraturan Menteri/Keputusan Menteri, maupun para penguasa di daerah-daerah berupa Perda, Perkada/Peraturan Kepala Daerah/Peraturan Gubernur/Walikota/Bupati, Keputusan Kepala Daerah, yang diterbitkan sesaat untuk waktu tertentu. Yang menjadi persoalan adalah banyak diantara aku, kau, kalian dan kita semua tidak mengetahui daya laku suatu peraturan perundang-undangan, sehingga hukum sesaat bisa menyesatkan atau menjadi hukum sesat jika suatu hukum/peraturan perundang-undangan yang hanya berlaku sesaat dipahami menjadi hukum/peraturan perundang-undangan yang berlaku selamanya.

Dengan saya munculkan atau temukan satu frasa hukum melalui artikel ini yaitu hukum sesa(a)t diharapkan dapat menambah perbendaharaan frasa hukum yang sudah ada dan sudah kita kenal selama ini, hukum rimba, hukum karma, hukum alam, hukum tarik menarik (law of attraction). Demikian pula, jika terdapat frasa hukum sesaat maka akan ada hukum selamanya, sebagaimana hukum public dengan hukum privat, atau hukum nasional dengan hukum internasional.

Untuk aku, kau, kalian dan kita semua silahkan mencari dan menguji peraturan perundang-undangan yang tergolong kedalam hukum sesaat atau hukum sementara.(*)

Gorontalo, 1 Januari 2019

BUKU CATATAN HUKUM KEUANGAN DAERAH : PERGESERAN ANGGARAN

Tinggalkan komentar

BUKU CATATAN HUKUM KEUANGAN DAERAH

PERGESERAN ANGGARAN

YUSRAN LAPANANDA

Sampai saat ini, banyak sudah para pimpinan daerah mulai dari Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah, Pimpinan DPRD, Pimpinan SKPD sampai dengan staf teknis SKPD tersandung kasus korupsi akibat dari penafsiran dan pelaksnaan atas “Pergeseran Anggaran”. Untuk itu catatan saya kali ini membahas seputar penafsiran atau interprestasi atas “Pergeseran Anggaran”, sebagaimana yang diatur dalam Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 terakhir diubah dengan Permendagri Nomor 21 Tahun 2011.

Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Tahun 2014, saat ini sudah memasuki bulan ke empat atau bulan April. Dan saat ini kebanyakan daerah sementara diperhadapkan dengan pemeriksaan Tim Pemeriksa BPK-RI atas LKPD Tahun Anggaran 2013. Kemudian untuk 60 (enam puluh) hari kedepan, daerah-daerah setelah menerima LKPD yang sudah diaudit oleh BPK “bersiap-siap” merubah APBD melaui mekanisme APBD Perubahan. Sebelum memasuki tahapan perubahan APBD, haruslah melalui tahapan pembahasan Ranperda tentang Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD Tahun 2013 (vide pasal 298 ayat (1) Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah terakhir diubah dengan Permendagri Nomor 21 Tahun 2011), setelah itu memasuki tahapan penyusunan dan pembahasan KUA dan PPAS Perubahan.

Pasal 154 ayat (1) Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 terakhir diubah dengan Permendagri Nomor 21 Tahun 2011, dinyatakan “Perubahan APBD dapat dilakukan apabila terjadi: (a) perkembangan yang tidak sesuai dengan asumsi KUA; (b) keadaan yang menyebabkan harus dilakukan pergeseran anggaran antar unit organisasi, antar kegiatan, dan antar jeinsi belanja; (c) keadaan yang menyebabkan saldo anggaran lebih tahun sebelumnya harus digunakan dalam tahun berjalan; (d) keadaan darurat; dan (e) Keadaan luar biasa”.

Tulisan saya kali ini hanya memberi catatan atas penafsiran/interprestasi frasa pergeseran anggaran, yang berkaitan dengan Pasal 154 ayat (1) huruf b, dan Pasal 160 Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 terakhir diubah dengan Permendagri Nomor 21 Tahun 2011 khususnya Pasal 160 ayat (5).

Pergeseran anggaran memang “dihalalkan” sebagaimana dimaksud pada Pasal 154 ayat (1) huruf b yaitu pergeseran anggaran antar unit organisasi, antar kegiatan, dan antar jenis belanja, dan sebagaimana dimaksud pada Pasal 160 ayat (1) yang menghalalkan juga pergeseran antar obyek belanja dan jenis belanja dan antar rincian obyek belanja. Selanjutnya Pasal 160 pun telah memberi dan membatasi kewenangan untuk melakukan pergeseran. Pasal 160 ayat (2), “menghalalkan” dan membatasi kewenangan untuk pergeseran aggaran antar rincian obyek belanja dalam obyek belanja berkenaan dilakukan atas persetujuan PPKAD (pejabat pengelola keuangan daerah).

Selanjutnya Pasal 160 ayat (3), “menghalalkan” dan membatasi kewenangan untuk pergeseran aggaran antar obyek belanja dalam jenis belanja berkenaan, dilakukan atas persetujuan Sekretaris Daerah. Pasal 160 ayat (4), memandu pergeseran anggaran yang “dihalalkan” dan menjadi kewenangan oleh PPKD dan Sekretaris Daerah ini  dilakukan dengan cara mengubah Peraturan Kepala Daerah (Peraturan Gubernur/Bupati/Walikota) tentang Penjabaran APBD sebagai dasar pelaksanaan anggaran yang sudah dilakukan pergeseran, dan selanjutnya dianggarkan dalam rancangan peraturan daerah tentang perubahan APBD.

Kemudian Pasal 160 ayat (5) menjelaskan “Pergeseran antar unit organisasi, antar kegiatan, dan antar jenis belanja dapat dilakukan dengan cara merubah Peraturan Daerah tentang APBD”. Pasal 160 ayat (5) inilah yang sering digunakan oleh Pemerintah Daerah dan DPRD untuk melakukan pergeseran anggaran antar unit organisasi, antar kegiatan, dan antar jenis belanja, dengan penafsiran/interprestasi “semau gue”. Frasa Pasal 160 ayat (5) ini sangatlah jelas dan tidak perlu lagi dilakukan penafsiran/interprestasi. Pasal 160 ayat (5) ini “hanya menghalalkan” pergeseran anggaran antar unit organisasi, antar kegiatan, dan antar jenis belanja, dengan kewenangan merubah perda tentang APBD melalui mekanisme DPRD.

Kebanyakan Pemerintah Daerah dan DPRD masih “mencoba-coba” menggunakan penafsiran/interprestasi dengan metode analogi maupun metode a contrario dengan menganalogi dan meng a contrario frasa “dengan cara merubah Peraturan Daerah tentang APBD”, dengan penafsiran/interprestasi “Peraturan Daerah itu juga nantinya memerlukan persetujuan DPRD maka bolehlah melakukan pergeseran anggaran antar unit organisasi, antar kegiatan, dan antar jenis belanja “cukup” dengan memberi persetujuan DPRD”.

Sampai dalam frasa ini penafsiran/interprestasi dapat diterima secara a contrario maupun analogi, namun jika frasa berikut “dengan cara merubah peraturan daerah tentang APBD” maka jelas tidak dapat di a contrrio maupun dianalogi, karena tahapan untuk pelaksanaan berikutnya harus merubah Peraturan Daerah, dan bukan merubah Peraturan Kepala Daerah.

Banyaknlah Pemerintah Daerah dan DPRD yang melakukan pergeseran anggaran antar unit organisasi, antar kegiatan, dan antar jenis belanja hanya dengan menggunakan mekanisme persetujuan DPRD, dan selanjutnya merubah Peraturan Kepala Daerah. Padahal Pasal 160 ayat (5) sudah “mengingatkan” pergeseran antar unit organisasi, antar kegiatan, dan antar jenis belanja harus dilakukan dengan cara merubah Perda dengan mekanisme melalui pengajuan Ranperda tentang APBD Perubahan. Sangatlah diperlukan “kehatian-hatian” didalam menafsirkan atau menginterprestasi suatu frasa peraturan perundang-uandangan baik dengan menggunakan metode analogi maupun metode a contrario.(*)

BUKU AKU, KAU, KALIAN DAN KITA SEMUA : BOLA KAKI KAMPOENG

Tinggalkan komentar

Buku Aku, Kau, Kalian dan Kita Semua

BOLA KAKI KAMPOENG

YUSRAN  LAPANANDA, SH.,MH.

Perasa Masalah Hukum, Sosial dan Kebijakan Publik

Aku, kau, kalian dan kita semua tahu masa-masa indah nan membahagiakan adalah masa anak-anak dan remaja. Masa-masa yang menyejukan dan penuh kenyamanan dalam menjalani hidup dan kehidupan adalah tinggal di kampoeng. Udaranya yang belum berlumur debu, belum tercampur dengan asap mesin-mesin sepeda motor, mobil dan mesin-mesin industry lainnya. Airnya yang belum tercemar dengan berbagai limbah, dan belum bercampur dengan sampah.

Aku, kau, kalian dan kita semua pasti mengalami dan memainkan berbagai permainan ala kampoeng seperti bola kaki. Bola kaki adalah sinonim dari sepak bola. Bola kaki adalah ungkapan sepak bola ala kampoeng. Saat aku, kau, kalian dan kita semua semasa anak-anak atau remaja seumuranku, ungkapan sepak bola di kampoeng diungkapkan dengan bola kaki kampoeng.

Permainan bola kaki kampoeng dapat dilihat dan dimainkan di lapangan terbuka, atau sudut-sudut kampoeng, tanah kosong atau pekarangan kosong, sawah/kebun yang kosong pasca panen yang belum dimanfaatkan oleh tuan dan pemiliknya.

Pemanfaatan lapangan milik orang ini sebagai lapangan bola kaki dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Tanpa MOU (memorandum of understanding), tanpa ikatan perjanjian, tanpa izin tertulis dan tanpa secarik kertas sebagai tanda setuju. Tak heran lapangan bola kaki kampong tanpa batas line atau garis panjang kali lebar, tanpa garis tengah, tanpa area penjaga gawang, tanpa lingkaran tengah lapangan, tanpa garis batas tendangan penjuru, tanpa garis penalti dan kotak penalti.

Dalam permainan bola kaki kampong pun tak ada wasit dan tak ada hakim garis. Tak ada pelatih dan tak ada pemain cadangan. Tiang gawang pun sangatlah darurat yang terbuat dari batang pinang atau pohon bambu, tanpa jaring, yang kadang kala tanpa tiang gawang cukup ditandai dengan tumpukan bebatuan. Tanpa kartu merah dan kartu kuning. Tanpa tendangan sudut. Tanpa aturan off side, tapi yang ada adalah aturan hands ball yang akan berbuah pinalti. Jarak titik pinalti dengan kipper pun hanya dihitung secara manual, “dua belas pas” dengan menggunakan langkah panjang maju jalan.

Bola kaki kampoeng tak mengenal diving. Diving adalah aksi pura-pura terjatuh, terguling-guling dan meringkuk kesakitan meski tak ada sentuhan dari lawan. Aksi untuk mengelabui, menipu, atau membohongi wasit agar beroleh hadiah penalti jika terjadi dalam area terlarang atau berharap pemain lawan beroleh kartu kuning/merah.

Para pemain pun tanpa kostum atau jersey yang seragam dan bernomor punggung. Mungkin mereka tak mengenal atau belum mengenal proposal atas permintaan pembelian ke berbagai lembaga pemerintahan, perbankan, kepada kontraktor atau para politisi di dapil mereka. Mereka pun belum mengenal bagaimana mendapatkan bantuan sosial atau hibah melalui APBD.

Untuk membedakan siapa kawan dan siapa lawan cukup ditandai dengan pelepasan kaos/baju. Siapa yang terlebih dahulu kebobolan gawangnya maka timnyalah yang melepas kaos hingga telanjang dada.

Waktu permaianan pun tak mengenal 2×45 menit. Tak mengenal babakan pertama dan babakan kedua, Tak mengenal injure time. Waktu berakhirnya pertandingan bola kaki kampoeng hanya ditandai dengan beduk magrib atau azan magrib berkumandang.

Walaupun serba dengan keterbatasan fasilitas dan kostum sepakbola atau jersey, bola kaki kampoeng sangat menyenangkan dan mengasyikan. Aku, kau, kalian dan kita semua saat itu benar-benar bermain lepas tanpa beban, tanpa target dan tak punya ambisi harus juara, namun masih dalam konteks ingin menang dan ingin mengalahkan lawan disetiap laga bola kaki kampoeng dengan bermartabat.

Permainan bola kaki kampoeng biasanya dilakukan di sore hari bada ashar. Tak ada ketepatan waktu. Permainan dimulai jika para pemain sudah cukup membentuk dua tim, tak peduli cukup menjadi kesebelasan atau tidak. Para pemain datang tanpa dorongan atau paksaan, tanpa absensi, tanpa perintah petinggi-petinggi kampoeng. Mereka datang dengan kesadaran yang tinggi hanya untuk berolahraga, berkeringat dan hanya untuk meramaikan kampoeng dikala senja, kala matahari terbenam kembali ketempat peraduannya.

Bola kaki kampoeng pun tak sepi penonton mungkin karena tak berbayar. Orang-orang kampoeng berdatangan secara spontanitas. Orang-orang kampoeng berdatangan tanpa pengaruh dengan janji-janji berhadiah atau doorprize. Penduduk kampoeng memang hanya ingin menyaksikan anak-anak dan cucu-cucu serta saudara-saudara mereka berlaga adu kekuatan dan kemahiran dengan dilandasi persahabatan dan persaudaraan.

Orang-orang kampoeng saat menyaksikan laga bola kaki kampoeng tanpa kaca mata hitam. Diantara mereka ada yang tak beralaskan kaki, sandal atau sepatu. Mereka kelapangan bola kaki tempat laga tanpa bermobil, tanpa bersepeda motor, atau tak menggunakan Grab, Gojek atau Uber, mereka cukup santai dengan mengayuh sepeda atau jalan kaki bersama.

Diantara penonton pun banyak gadis-gadis kampoeng ikut menyaksikan bola kaki kampoeng, ada yang sudah berdandan ditambah wewangian ala kampoeng, adapula yang belum masih dengan busana sejak pagi hari. Kehadiran gadis-gadis kampoeng selain mengisi waktu di sore hari, dipastikan juga diantara mereka ada yang mengintip para lelaki yang sementara bermain bola kaki, berharap bisa jadi pacar dan istri-istri mereka.

Dibenak mereka belum terlintas sebuah cita-cita untuk menjadi orang-orang terpelajar, orang-orang berduit, orang-orang yang dipuja dan dipuji, “makan puja atau makan puji”, mereka hanya ingin menghabiskan waktu di sore hari saja, mencari kenyamanan diri hingga tak mau berurusan dengan berbagai embel-embel kehidupan duniawi yang penuh dengan ikhtiar negatif (menjilat, kepura-puraan, bermuka dua dan lain-lain).

Laga bola kaki kampoeng pun tak mulus setiap hari, hingga kadang terhenti total dan solusinya pun laga bola kampoeng berpindah-pindah dari lapangan yang satu kelapangan lainnya. Ini akibat dari lapangan yang digunakan seperti sawah/kebun sudah akan digunakan untuk musim tanam atau lapangan terbuka sudah dilarang oleh pemiliknya.

Tak ada keberatan dari para pemain bola kampoeng atas larangan penggunaan lapangan bola kaki. Tak ada protes, tak ada lobi-lobi intervensi melalui petinggi-petinggi di kampoeng mereka. Mereka diam saja, mereka sadar bahwa memang lapangan itu bukan milik mereka, buka hak milik ataupun warisan nenek moyang mereka. Mereka tak mencari celah untuk kebenaran atas suatu kesalahan atau mereka tak mencari celah kesalahan atas suatu kebenaran. Mereka benar-benar menjunjung tinggi hak-hak berbangsa dan bernegara, mereka benar-benar menghormati dan menghargai hukum keperdataan yang berlaku dinegeri ini.

Tak itu saja, bola kaki kampoeng pun akan terhenti jika terjadi pertengkaran hingga perkelahian sesama teman pemain, akibatnya tiang gawang dicabut, diporak-porandakan. Jika bola kaki kampoeng terhenti karena terjadi sengketa perkelahian, bola kaki kampoeng pun bisa digelar kembali untuk beberapa waktu kemudian setelah petinggi-petinggi kampoeng turun tangan untuk mendamaikan, dan menyatukan kembali sengketa yang terjadi.

Selain itu, bola kaki kampoeng terhenti akibat dari seringnya kedatangan tamu kesebelasan dari kampoeng sebelah atau kampoeng tetangga. Jika bola kaki kampoeng sudah didatangai oleh tamu-tamu kesebelasan atau orang-orang dari kampoeng sebelah atau tetangga, maka beberapa pemain tuan rumah akan tersisih dan tak bisa bermain lagi sehingga berakibat para pemain kampoeng lainnya akan mencari lapangan bola kaki lainnya atau mencari permaianan olahraga alternatif lainnya seperti sepak takraw atau bola voli, sehingga jika para pemain tamu dari kampoeng tetangga tak datang maka dipastikan lapangan itu kosong melompong dan laga bola kaki kampoeng vakum.

Kesimpulannya, bola kaki kampoeng akan terhenti akibat dari, a. Lapangan bola kaki sudah dipakai oleh tuannya atau sudah dilarang oleh tuannya; b. Terjadinya sengketa, pertengkaran dan perkelahian sesama pemain bola kaki kampoeng; c. Akibat seringnya bola kaki kampong dimasuki dan didatangi tamu-tamu yang tak diundang.

Selamat bernostalgia ala bola kaki kampoeng.(*)

Limboto, 10 Agustus 2018

BUKU AKU, KAU, KALIAN DAN KITA SEMUA : REUNIAN DAN CLBK

Tinggalkan komentar

Buku Aku, Kau, Kalian dan Kita Semua

REUNIAN DAN CLBK

YUSRAN  LAPANANDA, SH.,MH.

Perasa Masalah Hukum, Sosial & Kebijakan Publik

Prolog

Reuni diartikan sebagai pertemuan kembali (bekas teman sekolah, kawan seperjuangan, dan sebagainya) setelah berpisah cukup lama. Beragam macam reuni diselenggarakan oleh para alumni, baik alumni siswa/siswa TK, SD, SMP, SMA, alumni kuliah/kampus hingga alumni diklat (pendidikan & pelatihan) baik PIM atau structural maupun fungisonal. Reuni pun beragam macam bentuk, mulai dari reuni akbar yang diikuti oleh seluruh alumni. Reuni angkatan yang diikuti terbatas pada angkatan tertentu, misalnya SMA angkatan 86 atau alumni kampus Fakultas Hukum angkatan 87. Reuni lainnya dalam sebutan, reuni sekolah, reuni kuliah, reuni lintas zaman, reuni zaman now, reuni seangkatan kerja, reuni seperjuangan, reuni jadoel, reuni terbatas, dan reunian-reunian lainnya.

Reuni yang paling heboh adalah reuni SMA atau reuni kuliah angkatan atau alumni 80-an. Hebohnya reuni angkatan atau alumni 80-an sepertinya banyak dipengaruhi factor usia yang dibilang paling pas dengan zaman sekarang diusia seputar 50-an. Hebohnya reuni angkatan atau alumni 80-an juga dikaitkan dengan masa 80-an punya lagu-lagu jadoel yang hingga kini masih hits dan penuh kenangan. Lagu-lagu lintas zaman yang masih sangat poluler hingga saat ini. Lagu 80-an banyak diabadikan dan dijadikan tema berbagai macam acara diberbagai TV swasta maupun negeri, seperti tembang kenangan, melody memori, radio jadoel dan lain sebagainya yang lagunya seputar lagu-lagu Betharia Sonata, Dian Piesesha, Koes Plus, Fariz RM, Harvey Malaiholo, Obbie Mesakh, Nike Ardila, Vina Panduwinata, Deddy Dores, Iis Sugianto dan lain-lain yang seangkatan dengan aku, kau, kalian dan kita semua.

Reuni kuliah/sekolah adalah reuni yang paling diminati dan paling heboh. Reuni sekolah/kuliah adalah acara temu kangen dan acara nostalgia yang banyak diburu. Reuni sekolah/kuliah merupakan pertemuan setelah bertahun-tahun tak bertemu. Reuni yang mempertontonkan berbagai perubahan dulunya berantakan, sekarang rapi. Dulunya acak-acakan dan tidak terurus, sekarang penuh wewangian dan necis. Dulunya bau sinar matahari, skarang bau mall matahari. Dulunya makan gorengan 3 dibilang 1, sekarang makan gorengan 1 dibilang 3. Dulunya langsing, sekarang langsung. Dulunya tak menor, sekarang bergincut. Dulunya pendiam sekarang gesit dan cerewet. Dulunya akti dan agresif sekarang lamban dan pasif pengaruh penyakit degeneratif (diabetes, asam urat, kolesterol). Dan lain-lain dulu dan sekarang, sekarang dan dulu.

Siapa inisiator reuni dan donatur disetiap reuni, baik reuni akbar, reuni lintas zaman, reuni angkatan dan reuni-reunian lainnya?. Inisiator biasanya berasal dari sesama alumni secara murni atau spontanitas sesama alumni. Juga inisiatior dari reuni bisa saja berasal dari yang punya kepentingan bisnis, atau kepentingan politik. Juga, inisiator dari reuni bisa berasal dari mereka-mereka yang jomblo, duda/janda, petualang cinta, para pencari kerja, bisnisme, dan lain-lain.

Siapakah donator sesungguhnya?. Donatur reuni, bisa spontanitas sesama alumni. Bisa keroyokan sesama alumni melalui list penyumbang. Donatur bisa juga berasal dari perorangan, mereka-meraka yang dianggap oleh inisiator mereka-meraka yang berduit. Bisa rekan alumni yang sudah sukses dibidang usaha (bisnisman, pengusaha maupun kontraktor). Bisa rekan alumni yang sukses dalam pemerintahan (kepala-kepala perangkat daerah, petinggi dikampus-kampus atau pimpinan pada lembaga/kementerian). Bisa rekan alumni yang sukses dalam dunia politik (Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah, pimpinan/anggota DPR/DPD hingga DPRD).

Acara-acara reuni pun mengenal berbagai slogan atau istilah-istilah seperti dalam suatu pembangunan gedung “peletakan batu pertama dan terakhir”, atau “panas-panas tahi ayam”. Reuni hanya untuk pertama dan terakhir. Reuni tidak dapat berjalan secara berkesinambungan. Peserta alumni biasanya hanya datang pada pertemuan awal. Pertemuan berikutnya jumlah peserta semakin sedikit hingga reuni tamat, berakhir, tidak lagi diadakan dan tak terdengar lagi.

Apa yang telihat dan bisa aku, kau, kalian dan kita semua saksikan disetiap acara-acara reunian. Make up berlebihan, peseta alumni oleh karena ingin tampil beda dan menebar pesona, ingin terlihat cantik, maka kejadian menggunakan make up berlebihan terlihat. Bergunjing, peserta alumni disaat acara reuni banyak yang mengelompok. Sharing pengalaman hidup, anak-anak hingga kesehatan. Tak luput pula bergunjing atau menyebarkan kejelekan teman sendiri.

Berlebihan saat berbicara. Memang saat bertemu teman lama pasti memiliki hasrat untuk menceritakan banyak hal kepada teman kita. Tetapi berbicara berlebihan bahkan sampai tidak memberikan kesempatan teman untuk berbicara sangatlah menyebalkan teman lainnya.

Selain itu, dibalik semuanya reuni banyak menyimpan berbagai kenangan, persahabatan, persauadaraan, kekompakkan, dan silaturahim, juga reuni meninggalkan berbagai persepsi buruk, tragedy, hingga berbagai dampak baik dampak positif maunpun dampak negative/buruk.

Dampak positif reuni

Di masyarakat Indonesia, acara kumpul-kumpul tidaklah asing. Masyarakat Indonesia sudah terbiasa dekat dengan keluarga besar, tidak seperti di Barat yang cenderung hanya dekat dengan keluarga inti.

Suatu fenomena kekinian di masyarakat Indonesia kumpul-kumpul atas nama reuni sering dilaksanakan dan sudah menjadi kebutuhan dan malahan sudah menjadi tradisi. Kondisi ini banyak pula dipicu oleh perkembangan teknologi komunikasi dan era digitalisasi (revolusi industry 4.0) melalui ponsel dan media social seperti Facebook maupun WhatsAap Group.

Hadirnya Facebook maupun WhatsAap Gorup, membuat komunikasi pertemanan yang lama terpisah terjalin kembali. Teman-teman lama waktu sekolah/kuliah yang sudah terpisah puluhan tahun bisa terjalin kembali lewat media ini. Kemudian pada umumnya berlanjut ke pertemuan reuni atau sebaliknya.

Reuni memang mengasyikan. Tentu saja karena banyaknya manfaat yang bisa diperoleh melalui reuni. Misalnya menjadi ajang bersosialisasi guna merekatkan tali persaudaraan maupun persahabatan. Reunian juga menjadi ajang aktualisasi diri, terutama mereka yang sudah pensiun dari pekerjaan. Melalui reuni peran-peran sosial yang sempat hilang dapat kembali ditumbuhkan.

Reuni selain bermanfaat untuk menjalin persaudaraan, persahabatan dan silaturahim, reuni juga bisa membuat seseorang merasa muda kembali. Bertemu dan bercerita tentang kebandelan kita, kekompakan kita, suka duka kita di masa sekolah/kuliah bisa menjadi refleksi dan menyemangati kita dimasa kini. Reuni menjadikan ikatan kekeluargaan diantara alumni. Bahkan jalinan kerjasama bisnis bisa terjadi karena reuni. Sesama alumni banyak yang membentuk yayasan untuk berkegiatan sosial atau mendirikan lembaga pendidikan.

Umumnya, para peserta dalam acara reuni mencoba mengingat kembali atau bernostalgia tentang hari-hari sekolah/kuliah mereka dulu, dengan detail mengingat teman-teman yang suka usil, dan bercerita tentang apa yang terjadi dengan masing-masing mereka sejak berpisah dan terpencar-pencar. Alumni biasanya sangat peduli dengan bagaimana hidup mereka berubah jika dibandingkan dengan hidup mantan teman sekolah/kuliah mereka, dan bercerita jauh mengenai karier sukses mereka, pencapaian pribadi, dan hubungan dengan orang lain.

Sebagian orang menganggap ajang reuni sebagai hal yang sangat penting karena di reunianlah para alumni dapat kembali merasakan masa-masa sekolah yang penuh kebersamaan dan kebahagiaan bersama teman-teman. Masa-masa seperti ini hanya ada ketika para alumni sekolah/kuliah, namun dengan reuni setidaknya para alumni bisa merasakan kembali hal-hal seperti itu. Mengingat hal-hal yang menarik, nama-nama panggilan yang didapat di masa sekolahpun akhirnya dipakai lagi ketika reunian. Memperbincangkan hal manis yang pernah para alumni lalui ini merupakan salah satu terapi hati yang efektif

Dalam urusan usia, reunian memberi dampak posistif. Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa kumpul-kumpul bersama sahabat akan menimbulkan rasa kegembiraan dan dapat membuat umur seseorang lebih panjang. Dalam penelitian itu membuktikan bahwa seseorang yang banyak dikelilingi oleh teman dan saudara kemungkinan meningggal lebih lama dengan umur panjang.

Dukungan emosi yang didapatkan dari teman dan keluarga mampu meringankan beban dan masalah seseorang. Manfaat reuni alumni ini biasa menjadi tempat mencurahkan berbagai masalah sehingga mampu membuat seseorang merasa lebih bahagia. Beban dan masalah yang awalnya ditanggung sendiri hingga membuat stres dan depresi bisa berkurang bahkan hilang dan berubah menjadi sebuah keceriaan.

Ajang reuni banyak dimanfaatkan oleh para anggotanya untuk melakukan hal yang positif, seperti penggalangan dana untuk amal, melaksanakan seminar-seminar, dan lain-lain. Untuk itu, lebih baik, reuni diiringi dengan kegiatan yang positif seperti bakti sosial, donor darah, atau yang lainnya.

Selain itu, dalam sebuah acara reuni biasanya para peserta alumni turut mengajak guru-guru atau dosen-dosen mereka dahulu disertai pemberian atau penyerahan bingkasan. Untuk seorang guru atau dosen, ajakan bergabung dalam acara reuni tentunya akan membuat guru atau dosen merasa terhormat karena masih diingat oleh siswa dan mahasiswanya.

Dampak negatif reuni

Reuni adalah sesuatu yang menyenangkan. Reuni suatu keinginan, kebutuhan dan harapan segelintir alumni. Kegiatan reuni banyak memberi manfaat dalam pelaksanaannya, namun juga berbagai kemungkinan-kemungkinan terjadi yang bisa memberi dampak tak baik bagi peserta alumni dan keluarganya.

Reunian bukan hanya berdampak positif bagi para pesertanya dan orang-orang disekitarnya, tetapi juga dapat berdampak negatif. Dampak negatif reuni, menjadi pemicu munculnya persoalan-persoalan dan permasalahan-permasalahan baru baik secara perorangan, kelompok  maupun terhadap kehidupan pihak-pihak lain, yaitu keluarga.

Ajang unjuk kesuksesan. Setelah bertahun-tahun berpisah, dalam diri seseorang pasti akan mengalami banyak perubahan hidup. Jika disaat sekolah/kuliah hidup berkelebihan karena memiliki orang tua yang kaya, namun sekarang berubah menjadi kebalikannya, hidup pas-pas dan seadanya. Dilain pihak seseorang dulu hidupnya susah, sekarang berhasil menjadi orang sukses, menjadi pejabat, bisnisman, politikus yang berkelebihan duit/harta. Perubahan kehidupan yang dulu hidup biasa dan sekarang telah sukses inilah yang seringkali ingin ditunjukan disaat reuni, ada yang secara terang-terangan ataupun secara tidak langsung. Sebaliknya perubahan kehidupan yang dulu hidup berkelimpahan, sekarang hidup susah, pas-pasan, apa adanya, inilah yang menjadi gunjingan sesama teman.

Pertunjukkan atas kesuksesan terlihat disaat reunian. Orang sukses pasti akan menggunakan pakaian yang wahhh. Orang sukses akan menggunakan berbagai fasilitas yang melekat pada dirinya, pejabat, bisnisman dan politikus. Mereka akan menggunakan ajudan hingga bermobil mewah.

Unjuk kesuksesan ini akan menjadi bagian dari upaya membanding-bandingkan sesama alumni. Membandingkan-bandingkan atas berbagai capaian dan raihan jabatan dunia dan harta-harta yang akan ditinggalkan.

Dukung mendukung dalam perpolitikan. Sudah menjadi rahasia umum reunian menjadi ajang dukung mendukung. Reuni menjadi ajang beroleh dukungan dalam pemilihan kepala daerah. Reuni menjadi ajang beroleh dukungan dalam pemilihan anggota legislatif (DPR, DPD, dan DPRD). Reuni pun menjadi ajang beroleh dukungan dalam pemilihan kepala desa. Reuni menjadi ajang beroleh dukungan dalam berbagai pemilihan/pengisian jabatan-jabatan dan kekuasaan-kekuasaan publik. Reuni menjadi ajang beroleh dukungan saat mutasi, pergeseran dan penempatan pejabat dalam pemerintahan atau pemerintah daerah.

Tak ayal, reuni banyak didanai oleh elit-elit perpolitikan, elit-elit pemerintahan dan kekuasaan/jabatan publik lainnya. Sehingga banyak reunian yang terjebak kedalam perpolitikan praktis. Reunian seperti ini adalah reuni musiman dan sesaat, musim pilkada, musim pileg dan saat dan menjelang pengisian jabatan-jabatan dalam pemerinatah dan pemerintah daerah.

Pemalakan. Reuni sangat butuh kekuatan dana maupun anggaran. Siapakah penyandang dana reuni sesungguhnya?. Bisa didominasi perorangan mereka-meraka yang dianggap oleh inisiator yang berduit. Bisa rekan alumni yang sudah sukses dibidang usaha (pengusaha maupun kontraktor). Bisa rekan alumni yang sukses dalam pemerintahan (kepala-kepala perangkat daerah, petinggi dikampus-kampus atau pimpinan pada lembaga/kementerian). Bisa rekan alumni yang sukses dalam dunia politik (Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah, pimpinan/anggota DPR/DPD hingga DPRD).

Meraka-mereka itulah yang menjadi obyek dan sasaran para inisiator reuni dalam mensukseskan acara atau kegiatan reuni. Dan mereka-mereka itulah yang menjadi obyek dan sasaran “pemalakan” inisiator hingga sesama alumni. Selain itu jika anggaran atau dana dari orang-orang sukses di jabatan-jabatan dan kekuasaan public tentaunya akan menganggu cash flow DIPA, DPA hingga budget perusahaan, dan akhirnya berakhir dengan berbagai penyimpangan keuangan kantor?.

Ada udang dibalik batu. Reuni sekolah/kuliah dan terutama diklat (PIM/structural) atau fungsional banyak yang secara sengaja dibuat atau direncanakan dibuat oleh orang-orang bejat dan memanfaatkan acara reunion sebagai pencitraan diri, juga mengumbar nafsu dan birahi.

Diantara alumni pak-pak punya niat jahat terhadap mak-mak untuk berbuat kejahatan kelamin mulai dari pelecehan hingga pemerkosaan. Diantara alumni ada yang siap menjadi inisiator hingga menjadi donatur tentu dengan dorongan melampiaskan nafsu, birahinya kepada mak-mak yang sudah menjadi incarannya. Waktu dan tempat pun dipilih adalah waktu malam hari atau waktu siang yang sepi. Tempat yang dipilih pun tak tanggung-tangung adalah obyek wisata pegunungan, pantai dan lain-lain sesuai keinginan perencana.

Respon mak-mak atas pak-pak yang berpikiran bejat, ada yang tak menyadari akan bahaya yang mengancam karena memang mak-mak tidak mengetahuinya sama sekali. Ada juga mak-mak yang menyadari dan tahu akan rencana bejat pak-pak tapi tenang-tenang saja karena sudah terbujuk dan terbuai dengan reunian. Malahan ada mak-mak yang tahu rencana bejat itu dan siap dengan apa yang akan terjadi, dan terjadilah.

CLBK (Cinta Lama Bersemi Kembali). Reunian menjadi ajang asmara sesama peserta reuni. Sering terjadi jalinan asmara yang terulang oleh dua pribadi yang di waktu sekolah pernah saling tertarik. Kalau saat ini mereka belum punya pasangan tentu tidak jadi masalah. Tetapi kalau masing-masing sudah mempunyai pasangan tentu buntut persoalannya bisa menjadi panjang dan mungkin runyam.

Tak bisa dibantah dan tak bisa dipungkiri CLBK (Cinta Lama Bersemi Kembali) sering hadir dalam reuni atau setelah reuni. Pertemuan yang semula bersifat sosial dan umum berubah menjadi pertemuan pribadi dan eksklusif. Tentu saja ini hanya menjadi masalah bagi mereka yang sudah berkeluarga.

Aku, kau, kalian dan kita semua haruslah berhati-hati. Mengapa harus hati-hati? Alasannya sederhana, dalam kegiatan reuni akan sangat rawan munculnya kembali benih-benih cinta. Khususnya bagi mereka yang memang saat masih di sekolah/kuliah dulu saling memadu kasih, namun pada akhirnya harus terpisah karena sesuatu hal.

Perselingkuhan. Secara psikolog klinis terdapat beberapa jenis perselingkuhan yang awalnya justru tidak direncanakan sama sekali dan momennya adalah reunian. Dalam reunion ketika bertemu dengan teman lama atau mantan di acara seperti itu, akan memunculkan rasa kenyamanan baru dalam ruang yang baru. Dari yang sudah lama tidak ketemu, sekarang dipertemukan tanpa sengaja. Bukan tidak mungkin akan memunculkan berbagai kesan diantara para alumni. Muncul berbagai rasa kebaikan peserta reuni. Muncul rasa cantik atau tampan peserta reuni. Itulah yang menjadi benih-benih awal dari pertemuan dalam reuni dan berlanjut ke pertemuan reuni berikutnya tentunya yang lebih seru lagi hingga berakhir dengan ke perselingkuhan

Saat ini reunian alumni bukan saja pada saat acara reunian, namun ditindaklanjuti dengan pembentukan group WhatsAap. Dari group WhtasAap ini bukan tidak mungkin terjadi obrolan yang mengarah pada pertemuan-pertemuan berikutnya. Ajakan bertemu di luar secara berdua, misalnya hingga munculnya asmara baru dan terjadilah perselingkuhan.

Banyak cerita yang sudah dikodifikasi dalam tulisan dan dalam bentuk gambar yang terekam dalam video dan banyak berita soal perselingkuhan akibat dari reunian yang menjadi pemberitaan berbagai media visual.

Penipuan. Penipuan biasanya terjadi sebelum atau sesudah acara reunian dilaksanakan. Modus penipuan bisa terjadi disaat pengumpulan dana oleh inisiator atau orang-orang yang memanfaatkan atau tahu celah hukum. Dana untuk biaya acara yang dikumpul, setelah itu pengumpul melarikan diri dan tak bisa dihubungi yang berakibat acara reuni tertunda, ditunda hingga batal terlaksana.

Modus lainnya walaupuan dana sudah cukup akan tetapi para pengumpul masih mengumpul dana dari orang-orang atau sesama alumni yang pada akhirnya dana yang terkumpul tidak digunakan untuk kegiatan alumni malahan digunakan untk kepentingan atau kebutuhan lainnya.

Kecanduan reuni. Reuni dapat memberi dampak buruk bagi aku, kau, kalian dan kita semua. Kecanduan dan ketagihan untuk selalu berhasrat dan bernafsu mengadakan reuni dalam segala bentuk reuni hingga dalam bentuk reuni kecil-kecilan, arisan atau sekedar ketemu ngobrol, ngrumpi di café, resto atau rumah kopi atau rumah makan. Jika sudah kecanduan dan ketagihan maka urusan pekerjaan usaha/kantor dan rumah tangga terbengkai dan terabaikan hingga suami/istri dan anak-anak tak terurus, akhirnya menimbukan keluarga tak harmonis. Berkurangnya waktu inilah yang pada akhirnya akan menimbulkan konflik dan memicu timbulnya kecurigaan-kecurigaan yang sebenarnya belum tentu sesuai dengan yang dipikirkan pasangannya.

Chatting. Dizaman digital sekarang ini kebutuhan ponsel atau handphone sudah melebihi kebutuhan lahiriah hingga bathiniah. Saat ini reuni dan alumni sekolah, kuliah hingga alumni diklat (PIM/structural atau fungsional) identik dengan reuni digital, handhone atau ponsel melalui Fecebook atau WhatsAap Gorup. Alumni rata-rata punya Group WhatsAap untuk buat status dan komentar di group.

Chatting/obrolan group alumni sungguh menyita waktu. Menyita waktu berkeluarga, waktu bekerja, waktu istirahat. Banyak pertengkaran antara suami dan istri terjadi gara-gara chatting/obrolan Facebook atau WhatsAap Group alumni. Banyak pekerjaan terbengkalai karena urusan obrolan Facebook atau WhatsAap Group alumni. Banyak asuhan mak-mak kepada anak-anak terabaikan dan tak terurus.

Chatting/obrolan Facebook atau WhatsAap Group alumni tak mengenal ruang, waktu dan profesi. Dalam urusan bekerja pun banyak mak-mak saat memasak dan mengasuh anak sambil mengintip isi obrolan. Banyak pak-pak dalam bekerja sambil mengintip isi obrolan., dan berbagai dampak buruk lainnya.

Epilog

Aku, kau, kalian dan kita semua tahu, bertemu/bersua, berbincang, bercanda akan hal-hal yang lama terpendam dengan teman-teman lama sangatlah menyenangkan, mengingat masa-masa lalu seru dan lucu. Berbincang dan bercanda dengan teman lama bukan saja terjadi dalam acara reuni. Saat ini berbincang dan bercanda sesama alumni sudah dilakukan melalui media social atau jejaring social.

Saat ini intesitas reuni, pertemuan atau apapun namanya meninggi. Tingginya intensitas ini dipengaruhi digitalisasi dalam era Revolusi Industri 4.0. Media social meresonansi dunia. Facebook, WhatsAap Group menjadi instrument penting dalam aksi-aksi alumni atas nama reuni. Tanpa harus bertemu dan bersua, chatting/obrolan dalam Facebook, WhatsAap Group sudah mewakili ajang silaturahim dan ajang memperaerat tali persaudaraan serta ajang bernostalgia sesama alumni.

Ramai dan ributnya Facebook, WhatsAap Group alumni hingga aku, kau, kalian dan kita semua banyak yang terjebak ke memory masa lalu, sibuk kembali membicarakan gosip masa lalu, melacak kembali kabar kekasih masa lalu walaupun saat ini sudah berkeluarga, dan tidak jarang terjebak pada sikap menilai orang lain berdasarkan ukuran-ukuran dan sifat mereka di masa lalu.

Terkadang intensitas obroloan dalam Facebook maupun WhatsAap Gorup para alumni baik alumni sekolah, kuliah hingga alumni diklat (PIM/structural atau fungsional) membuat lupa waktu. Sehingga mengganggu konsentrasi dalam bertugas, lupa akan pekerjaan hingga mengabaikan keharmonisan rumah tangga.

Disadarai reunian, baik dalam bentuk acara maupun reunian melalui Facebook maupunWhatsAap Group memberi manfaat dan berdampak positif bagi para alumni. Juga sadar atau tidak, reunian memberi dampak buruk atau negative bagi para alumni, keluarga hingga urusan pekerjaan dengan produktivitas kerja menurun.

Banyak harmonisnya keluarga yang terganggu saat ayah/ibu maupun anak masing-masing sibuk dengan Facebook maupun WhatsAap Group reunian alumni. Berapa banyak pekerjaan yang terlantar, karena pekerjanya sibuk dan hanya fokus pada apa yang terjadi di dunia Facebook maupun WhatsAap Group.

Perlu aku, kau, kalian dan kita semua ingat dan sadari, masa lalu adalah sejarah yang tak akan pernah kembali lagi. Hari ini adalah fakta dan kenyataan yang harus dijalani. Masa depan tergantung pada apa yang aku, kau, kalian dan kita semua lakukan hari ini.

Adakah aku, kau, kalian dan kita semua mengalami nukilan-nukilan yang terlukis diatas? Sudahkah aku, kau, kalian dan kita semua merenungkan dampak negative atau buruk akibat beralumni dan berreunian yang terjadi hingga saat ini.?

Waham-wahan yang terhalusinasi sebagai introspeksi diri, untuk lebih berhati-hati memanfaatkan dan mengelola waktu hidup yang terbatas dan tersisa ini.

Hanya berharap dapat bermanfaat, dan tidak untuk dibenci apalagi dilawan dengan genggaman kekuasaan.(*)

Limboto, 9 Agustus 2018

BUKU KUMPULAN ESAI & PUISI : NEGERI DI DALAM AWAN

Tinggalkan komentar

BUKU KUMPULAN ESAI & PUISI : NEGERI DI DALAM AWAN

Kemiskinan Mereka

Yusran Lapananda

Atas kesulitan rakyat dan kesulitan ASN
Tak butuh telinga untuk mendengarnya
Atas kesengsaraan rakyat dan kesengsaraan ASN
Tak butuh mata untuk melihatnya

Atas kesusahan rakyat dan kesusahan ASN
Tak butuh hidung untuk menciumnya

Atas penderitaan rakyat dan penderitaan ASN
Tak butuh mulut untuk merasanya
Atas kemelaratan rakyat dan kemelaratan ASN
Tak butuh tangan untuk merabanya

Atas kemiskinan rakyat dan kemiskinan ASN
Tak butuh otak untuk memikirkannya

Atas semuanya hanyalah mainan retorika
Atas semuanya hanyalah mainan riset
Atas semuanya hanyalah mainan data
Atas semuanya hanyalah mainan kebijakan

Solusi terpenting pada cipta, rasa dan karsa

Indonesia, 7 Agustus 2018

BUKU AKU, KAU, KALIAN DAN KITA SEMUA : BIROKRASI “KOTOR”, PANJAT PINANG

Tinggalkan komentar

Buku Aku, Kau, Kalian dan Kita Semua

BIROKRASI “KOTOR”, PANJAT PINANG

YUSRAN  LAPANANDA, SH.,MH.

Pejabat/ASN

Abstrak

Peringatan dan perayaan Hari Kemerdekaan bangsa kita, Bangsa Indonesia 17 Agustus rutin dilaksanakan. Peringatan dan perayaan dilaksanakan dalam upacara kenegaraan dan turut diramaikan dengan berbagai kegiatan dan acara yang sifatnya hiburan rakyat. Panjat pinang adalah salah satu kegiatan yang turut menghiasai peringatan dan perayaan HUT Kemerdekaan. Lomba panjat pinang dilaksanakan mulai pada tingkat RT/RW, Desa/Kelurahan, Kecamatan, Kabupaten/Kota, Provinsi hingga tingkat nasional. Pemaknaan seputar lomba panjat pinang beragam mulai dari lomba panjat pinang yang identik dengan peninggalan atau warisan masa penjajahan belanda, yang memposisikan rakyat Indonesia yang tertindas dan potret orang pribumi dalam cengkraman “kebodohan”. Juga lomba panjat pinang adalah cerminan birokrasi Indonesia saat ini yang saling menginjak, melibas, menindas sesama birokrat dengan kompetisi dan kompetensi “kotor” untuk mencapai karir dan kesuksesan.

Keyword: HUT Kemerdekaan, panjat pinang, birokrasi “kotor” panjat pinang.

Pendahuluan

Tinggal menghitung hari. Tak lama lagi Hari Kemerdekaan bangsa kita, Bangsa Indonesia 17 Agustus diperingati. Peringatan 17 Agustus Hari Kemerdekan atau yang disebut “Agustusan atau tujuh belasan” turut diramaikan dengan berbagai kegiatan maupun acara baik acara resmi kenegaraan, seremonial maupun yang sifatnya hiburan rakyat. Penyelenggara dan pelaksanaannya pun mulai tingkat RT/RW, Desa/Kelurahan, Kecamatan, Kabupaten/Kota, Provinsi hingga tingkat nasional.

Semarak agustusan atau tujuh belasan mulai terasa dan terlihat. Soal hibur menghibur rakyat beragam macam kegiatan atau lomba digelar. Panjat pinang adalah salah satu lomba yang menjadi ikon “agustusan atau tujuh belasan”. Selain lomba lainnya seperti lari karung, lomba makan krupuk, pindah kelereng dengan sendok, pecah botol, tarik tambang, sepakbola dangdut, sepakbola sarung, sepeda lambat, sepakbola daster, gigit koin, perang bantal, lomba tobelo/maumere, panjat pisang, lomba gendong istri, dan berbagai macam lomba dan permainan lainnya.

Tak tanggung-tanggung ramainya, lombapun bukan saja diikuti oleh rakyat jelata, rakyat biasa, tua-muda, kaya-miskin, pekerja-pengangguran, ASN, juga diikuti para pejabat rendahan hingga pejabat tinggi dan tinggi Negara. Semuanya membaur, turut meramaikan hajatan nasional “tujuh belasan atau agustusan”, hari kemerdekaan Indonesia.

Panjat Pinang, yang secara literal berarti memanjat pohon pinang. Sebatang pohon pinang yang dilumuri minyak atau oli hitam sehingga sangat licin dan kotor, dipanjat oleh beberapa orang untuk mendapatkan hadiah yang digantung diatas batang pinang. Hadiahnya bervariasi mulai dari pakaian, sarung, makanan ringan, hand phone, radio, bahkan sepeda, hingga bendera merah putih yang dinilai dengan sejumlah uang yang ditancapkan pada ujung batang pinang.

Semuanya saling berlomba untuk menjadi pemenang, sang juara dan mendapatkan hadiahnya. Permainan ini diakhiri dengan habisnya hadiah dan diraihnya bendera merah putih yang terletah di puncak atas batang pinang sebagai tanda sebuah kemenangan dan keberhasilan menaklukan batang pinang yang licin.

Akhir-akhir ini panjat pinang sudah berevolusi menjadi panjat bambu atau panjat pisang. Apakah ini bagian inovasi kekinian atau dipengaruhi oleh kelangkaan pohon pinang yang sudah sangat sulit untuk mendapatkannya. Kelangkaan pohon pinang, bagaikan kelangkaan yang terjadi saat ini, kelangkaan minyak tanah, premium, elpiji, hingga kelangkaan lapangan kerja yang berakibat pada pengangguran, kemiskinan dan stunting.

Lomba panjat pinang memang sangat unik dan mungkin hanya ada di Indonesia. Lomba panjat pinang adalah tradisi yang bisa bertahan hingga mampu melintasi zaman, terlepas dari kontroversi seputar panjat pinang. Pro dan kontra atas permainan lomba panjat pinang hingga saat ini masih berpolemik baik dalam filosofinya maupu pemaknaannya. Mulai dari filosofi maupun pemaknaan positif maupun negative. Misalnya panjat pinang yang dengan hiburan rakyat mencerminkan nilai-nilai kebersamaan dan kerja sama para peserta untuk mencapai puncak dan merebut hadiah dan mencerminkan semangat persatuan para pejuang kita saat berjuang untuk kemerdekaan RI.

Selain itu pemaknaan atas lomba panjat pinang identik dengan peninggalan atau warisan masa penjajahan belanda, yang memposisikan rakyat Indonesia yang tertindas dan potret orang pribumi dalam cengkraman kebodohan. Juga lomba panjat pinang adalah cerminan birokrasi Indonesia saat ini yang saling menginjak, melibas, menindas sesama birokrat dengan kompetisi dan kompetensi “kotor” untuk mencapai karir dan kesuksesan.

Pemaknaan Negatif Panjat Pinang

Pemaknaan seputar lomba panjat pinang tak mulus dan tak licin seperti batang pinang, beragam macam pendapat dan tafsir ikut memaknainya. Lomba panjat pinang dapat dimaknai secara negatif dan dapat dimaknai secara positif.

Beberapa literasi mengajarkan pemaknaan negatif atas lomba panjat pinang. Historis, asal muasal panjat pinang memang merupakan peninggalan kolonial Belanda. Panjat pinang ternyata bermula saat zaman penjajahan Belanda. Orang Belanda di Indonesia dalam merayakan hajatan seperti pernikahan, ulang tahun dan lain-lain acara mengadakan lomba panjat pinang. Celakanya peserta lomba panjat pinang adalah penduduk pribumi. Mereka sangat antusias mengikutinya karena iming-iming hadiah yang digantung pada puncak batang pinang. Beragam macam bahan-bahan yang dibutuhkan penduduk pribumi kala itu seperti pakaian dan bahan makanan menjadi hadiah lomba panjat pinang.

Dibalik keceriaan lomba panjat pinang dan laomba panjat pinang sebagai hiburan rakyat, permainan ini ternyata menyimpan fakta yang kurang mengenakkan bagi bangsa Indonesia. Orang-orang Belanda tertawa disaat menyaksikan lelucon atas “kebodohan dan kekotoran” orang pribumi yang mau berebut barang yang dianggap murahan oleh mereka. Mereka terbahak-bahak menyaksikan kegagalan-kegagalan dan kejatuhan-kejatuhan para pemanjat orang-orang pribumi. Mereka terbahak-bahak menyaksikan para pemanjat (orang pribumi) penuh dengan kotoran hitam dari minyak atau oli.

Potret panjat pinang, dalam konteks kehidupan zaman now dan zaman kemerdekaaan, bagi para nasionalis dianggap pembodohan dan penistaan terhadap bangsa Indonesia saat itu. Sehingga dengan demikian, kalau itu sebuah penistaan dan pembodohan, kenapa harus dilombakan atau dipermainkan lagi dan dipertontokan ke khalayak ramai?. Sepertinya, pemaknaan atas pemikiran inilah yang membuat lomba panjat pinang mulai ditinggalkan hingga mau ditiadakan.

Pemaknaan lain menyayangkan, jika panjat pinang ditinggalkan atau ditiadakan hanya karena parameter nasionalisme yang dilukai. Sebab bagaimanapun dan tak dapat dipungkiri, sejarah asal muasal lomba panjat pinang tetaplah sebuah sejarah. Lomba panjat pinang sudah menjadi tradisi warisan. Lomba panjat pinang adalah sarana hiburan rakyat dalam berbagai kegiatan, itu saja.

Pemaknaan negatif lainnya. Dalam permainan panjat pinang yang jadi pemenangnya adalah hanyalah seorang yang tiba di puncak lebih awal. Akan tetapi lihatlah proses kemenangan pemanjat pinang yang mencapai puncak. Pemanjat yang mencapai puncak, siapapun dia, pasti mengalami injakan dan pasti menginjak pemanjat atau teman lainnya. Tak ada pilihan lain, menginjak teman atau diinjak teman. Tubuh yang diinjak tak hanya pundak saja tapi bisa juga kepala. Setiap pemanjat harus rela ‘menyediakan dirinya’ untuk diinjak-diinjak pemanjat lainnya agar anggota lainnya bisa naik, mencapai puncak dan meraih hadiah. Pemaknaan negatif dari lomba panjat pinang adalah menginjak teman sendiri untuk mencapai tempat yang tinggi. Dan setiap pemanjat akan melakukan hal yang sama kepada teman lainnya untuk mencapai puncak pinang, untuk menggapai hadiah.

Pemaknaan Positif Panjat Pinang

Selain itu, beberapa literasi mengajarkan pemaknaan positif atas permainan panjat pinang. Lomba panjat pinang seakan mengajarkan cara bagaimana kita bisa eksis dan hidup secara baik hingga berhasil mendapatkan apa yang kita inginkan berdasarkan apa yang kita usahakan. Lomba panjat pinang mengajarkan, kalau ingin berhasil mencapai puncak kesuksesan agar meniru filosofi panjat pinang, dimana untuk meraih puncak atau mencapai puncak kesuksesan diperlukan kerja sama tim, kerja keras, keuletan, sikap pantang menyerah dan harus berstrategi. Jangan sebaliknya saling tarik menarik dan egois, mementingkan diri sendiri, akhirnya akan gagal.

Lomba panjat pinang adalah sebuah sajian hidup yang memang sangat realistis. Permainan panjat pinang tak semata mengejar hadiah uang maupun barang. Permainan panjat pinang ternyata memiliki pemaknaan dalam tiap fase kehidupan yang realistis.

Fase awal, Pohon pinang yang berdiri tegak, tinggi menjulang keatas mencerminkan awalnya manusia berdiri sendiri-sendiri dan mengandalkan kekuatan pribadi, serta masih mewakili egonya masing-masing hingga jauh dari kehidupan sosial.

Fase menengah, Setiap manusia mulai menyadari bahwa bekerja sendirian itu terlalu berat. Memanjat pohon pinang yang tinggi dan licin setidaknya butuh tumpuan kuat di bawah. Untuk mencapai dan berhasil menaklukan pohon pinang butuh interaksi dan kerjasama.

Fase akhir, Para pemanjat pinang melihat dan menyadari bahwa pohon pinang yang licin dan tinggi menjulang harus ditaklukkan secara bersama dan bergotong-royong demi sebuah cita-sita menggapai sebuah tujuan. Perlunya, untuk bersatu menaklukan pohon pinang dan bertekad mengantarkan siapapun pemanjat untuk sampai kepuncak, melucuti semua hadiah. Dan pemanjat yang di bawah, mengumpulkan hadiahnya dan membaginya bersama secara adil.

Pemaknaan positif lainnya terhadap lomba panjat pinang atas beberapa literasi yaitu mengandung nilai-nilai kekuatan, oleh karena panjat pinang adalah salah satu lomba yang mengandalkan kekuatan fisik. Diperlukan kekuatan fisik dan ketrampilan untuk memanjat maupun menahan beban untuk naik hingga kepuncak batang pinang. Untuk menjalani kehidupan ini dan untuk meraih kesuksesan diri diperlukan kekuatan fisik dan kesehatan yang prima sebagai modal utama. Tak mungkin orang sakit-sakitan bisa menjalankan kehidupan ini, fisik yang lemah dan kesehatan yang tidak prima bisa menghambat apa yang kita kerjakan.

Tak itu saja, dalam lomba panjat pinang, para pemanjat harus memiliki nilai-nilai kerjasama dan mampu menjaga kekompakan dalam meraih tujuan yaitu puncak batang pinang. Lomba panjat pinang dilakukan oleh beberapa orang sebagai pemanjat. Sesama pemanjat saling mendukung pemanjat lainnya pada pundak pemanjat lainnya. Pemanjat harus bekerjasama dan menjaga kekompakkan dalam menaklukan batang pinang yang berlumur minyak atau oli hingga meraih puncak batang pinang untuk meraih hadiah yang tergantung di atas batang pinang.

Panjat pinang hanya bisa dilakukan oleh beberapa orang, tidak mungkin dilakukan sendiri. Artinya untuk mencapai suatu tujuan kita harus menjaga kerjasama dan kekompakan, yang bisa bersinergi secara maksimal untuk mencapai suatu tujuan bersama. Panjat pinang adalah permainan yang menunjukkan nilai kebersamaan diantara masyarakat sehingga tercipta lingkungan yang harmonis satu sama lain. Kekompakan merupakan hal terpenting dalam lomba panjat pinang untuk mencapai puncak kemenangan.

Para pemanjat pinang dalam aksinya butuh strategi dalam usaha meraih puncak untuk memperoleh hadiah. Misalnya dalam kelompok pemanjat, sesama pemanjat sengaja menempatkan pemanjat lainnya yang berpostur kekar pada bagian bawah, diikuti pemanjat yang lebih kecil dan berurutan hingga yang paling terkecil dan gesit. Pemanjat yang paling kecil inilah yang bertugas memetik hadiah yang bergantungan dipuncak batang pinang.

Batang pinang sangatlah licin, sehingga memanjat pinang selain butuh startegi, juga butuh daya juang. Demikian pula dalam kehidupan ini, untuk mencapai kesuksesan diperlukan kerja keras dan daya juang. Dalam lomba panjat pinang diperlukan daya juang dan jiwa pantang menyerah. Tak heran lomba panjang pinang banyak digelar pada Hari Ulang Tahun Kemerdekaan, selain untuk menghibur masyarakat juga diharapkan masyarakat mampu merefresh kembali perjuangan pahlawan yang gigih berani dan pantang menyerah melawan penjajahan demi kemerdekaan. Sukses itu harus diperjuangkan dengan gigih, berani menghadapi segala tantangan dan mencurahkan segenap keberanian, kerja keras, dan pantang menyerah. Setiap kegagalan harus menjadi cambuk untuk segera bangkit lagi.

Dalam lomba panjat pinang haruslah menjunjung tinggi kejujuran. Lomba panjat pinang pasti disaksikan penonton sehingga diantara pemanjat jika melakukan kecurangan dan tak jujur akan ketahuan banyak orang. Demikian pula dalam kehidupan nyata, setiap kecurangan dan ketidak jujuran pasti akan ketahuan. Kesuksesan yang dibangun dari kecurangan dan ketidakjujuran tidak langgeng serta tidak medatangkan keberkahan. Jika salah seorang pemanjat berhasil kepuncak dan berhasil meraih hadiah, hadiahnya akan terdistribusi ke pemanjat lainnya. Tak akan dibawah kabur apalagi dikorupsi.

Birokrasi “Kotor”, Panjat Pinang

Kultur birokrasi kita tercermin dari tradisi lomba panjat pinang. Panjat pinang adalah permainan yang hingga saat ini masih menjadi penghias dalam memperingati Hari Kemerdekaan 17 Agustus. Cerminan lomba panjat pinang adalah ketiadaan pemenang sejati. Konsepsi kemenangan dan pemenang dalam lomba panjat pinang hanyalah akibat dari kejatuhan teman sendiri, dengan cara menginjak teman sendiri.

Pemenang lomba panjat pinang berhasil menaklukan pinang yang tinggi, yang dilumuri minyak atau oli nan kotor. Tak ada pemenang yang sekali naik langsung ke pincak. Tak ada pemenang dan berhasil kepuncak pohon pinang tanpa pernah gagal pasti mencoba dan mencoba lagi, mengulang-mengulang lagi hingga sukses kepuncak pinang untuk mendapatkan hadiah. Tak ada pememang lomba panjat pinang yang badanya tak kotor. Tak ada pemenang panjat pinang yang tak pernah jatuh, bahkan ada pemenangnya terkilir. Kejatuhan dan kotornya badan peserta lomba panjat pinang tak membuat penonton prihatin dengan belas kasihan malahan dijadikan tontotan yang menarik, diteriaki, di aplaus tepuk tangan dan lain-lain yang memiriskan rasa dan jiwa.

Lihatlah, pemenang lomba panjat pinang hanyalah pemanjat yang tiba di puncak lebih awal. Akan tetapi lihatlah proses kemenangan pemanjat pinang yang mencapai puncak. Pemanjat yang mencapai puncak, siapapun dia, pasti mengalami injakan dan pasti menginjak-injak pemanjat atau teman lainnya. Tak ada pilihan lain, menginjak teman atau diinjak teman. Tubuh yang diinjak tak hanya pundak saja tapi bisa juga kepala. Setiap pemanjat harus rela ‘menyediakan dirinya’ untuk diinjak-diinjak pemanjat lainnya agar anggota lainnya bisa naik, mencapai puncak dan meraih hadiah.

Pembelajaran dalam lomba panjat pinang adalah suksesnya pemenang pasti menginjak teman sendiri untuk mencapai tempat yang tinggi. Dan setiap pemanjat akan melakukan hal yang sama kepada teman lainnya untuk mencapai puncak pinang, untuk menggapai hadiah.

Konsepsi panjat pinang yang “kotor” ala Belanda sama halnya dengan konsepsi birokrat dalam birokrasi Indonesia. Banyak hal pembelajaran dari konsepsi panjat pinang dalam konsepsi birokrat dalam birokrasi kita.

Konsepsi pelayanan birokrat dalam birokrasi yang minta dilayani sudah harus ditinggalkan. Konsepsi birokrasi untuk melayani lebih dikedepankan dalam konteks pelayanan publik. Birokrasi sudah ditakdirkan untuk melayani dan bukan untuk dilayani. Birokrasi kita hingga saat ini belum mampu keluar dari birokrasi kolonial yang lahir dan dibentuk untuk dilayani, bagaikan tuan-tuan, sinyo-sinyo dan noni-noni belanda.

Konsepsi perilaku/tingkah laku birokrat dalam birokrasi “kotor” yang saling sikut dan sikat, iri hati, saling menzolomi sesama, melibas dan melindas, menfitnah, manipulasi data, pemutarbalikan fakta, kecemburuan, pembohongan, kepura-puraan, tipu-menipu, tak berdisiplin, anti kritik, yang benar disalahkan dan yang salah dibenarkan dan lain sebagainya sudah harua ditenggelamkan.

Konsepsi korupsi birokrat dalam birokrasi “kotor”, yang saling suap menyuap, pungutan liar, gratifikasi, pemerasan, menerima fee proyek, perjalanan dinas fiktif (undercover), fee atas nama dana aspirasi, memotong hak-hak PNS atas nama berzakat namun dalam cengkraman kekuasaan, potongan atas nama himbauan harus dihentikan.

Konsepsi pengambilan keputusan birokrat dalam birokrasi “kotor”” yang mementingkan kepentingan pribadi, keluarga, para kroni, mementingkan kepentingan kepengurusan partai politik dari pada rakyat, merampas hak libur ASN “sabtu minggu” untuk kepentingan pencitraan diri dan  kepentingan pribadi, keluarga, kelompok, kroni, partai poitik, dan demi bertahan dalam kekuasaan/jabatan, sudah harus dihempaskan.

Konsepsi tindakan/perbuatan birokrat dalam birokrasi “kotor” yang melanggar norma-norma (hukum, adat, agama, kesusilaan/kesopanan) dan peraturan perundang-undangan yang berlaku wajib dimusnahkan baik melalui pembakaran, penimbunan atau pengurasan.

Konsepsi kebijakan birokrat dalam birokrasi “kotor” yang mengeksplorasi dan mengeksploitasi APBD/APBN serta mengeksplorasi dan mengeksploitasi ASN untuk kepentingan pilkada langsung demi bertahannya petahana dalam singasana kekuasaan, dan kebijakan-kebijakan lainnya yang semata untuk kepentingan pribadi, kelompok, keluarga, kroni, partai politik dan lain sebagainya, harus ditinggalkan.

Saatnya birokrasi yang “kotor” atas pemaknaan panjat pinang sudah harus ditinggalkan, dihempaskan, dihentikan, ditenggelamkan, hingga dimusnakan (dikuras, dibakar dan ditimbun) dalam birokrasi Indonesia.

Penutup

Apapun pemaknaan atas lomba panjat pinang baik pemaknaan negatif maupun pemaknaan positif bagi kita semua, bangsa dan Negara Indonsia tindakan dan kebijakan keluar dari “kotoran” birokrasi harus, wajib dan sesegera dilakukan oleh para pemangku kepentingan, Pemerintah Pusat melalui Kementeraian dan Lembaga yang terkait, dan Pemerintah Daerah melalui Kepala Daerah dan perangkat daerah beserta DPRD, baik dalam perumusan/penyusuan kebijakan maupun dalam pelaksanaan kebijakan haruslah terus-menerus dilakukan perbaikan, dirumuskan, dilaksanakan dan dikawal serta dievaluasi. Dirubah dalam mencari format yang layak untuk perbaikan birokrasi kita kedepan.

Penguatan birokrasi kita melalui birokrat yang handal sudah sangat mendesak untuk menjadikan Indonesia yang kompetitif, unggul dan jaya. Pembaharuan birokrasi Indonesia perlu dilakukan mulai dari perekrutan yang kompetitif tanpa sogokan dan tanpa kepentingan pribadi, keluarga, kelompok, kroni, partai poitik, dan tanpa keinginan bertahan dalam kekuasaan/jabatan.

Pendidikan dan pelatihan tanpa dorongan keuntungan finansial panitia sebagai upeti kepada pimpinan, jauh dari “preminsime” APBD dan pemaksaan anggaran belanja, demi perjalanan dinas undercover dan demi kepentingan pribadi, keluarga, kelompok, kroni, partai poitik, dan demi bertahan dalam kekuasaan/jabatan.

Promosi dalam jabatan, pergeseran dan mutasi dalam jabatan tanpa harapam finansial dan kepentingan pribadi, keluarga, kelompok, kroni, partai poitik, dan bertahan dalam kekuasaan/jabatan, namun semata-mata atas kinerja, kemampuan, dan wajib memperhatikan hasil talent pool atas potensi dan kompetensi dan menjauhkan dari berbagai bisikan, fitnah, sogokan, sandera suap/gratifikasi dan kepentingan partai poitik dan keinginan untuk bertahan pada tahta kekuasaan, apalagi hanya dilandasi oleh dendam politik pilkada dan iri hati pimpinan kepada bawahan dan iri hati sesama atas kemampuan berfikir, berinovasi dan berkinerja.

Mari kita songsong birokrasi dan birokrat Indonesia yang handal dan kompetitif, birokrasi sebagai organisasi yang rasional dan birokrasi sebagai masyarakat modern, dan birokrasi sebagai pelopor Revolusi Industrsi 4.0 dalam usia Indonesia yang ke-73.

Dirgahayu Bangsa dan Negaraku Indonesia. Dirgahayu Hari Kemerdekan Indonesia. Dirgahayu 17 Agustus 1945-2018 ke -73.(*)

Daftar Pustaka

Albrow, Martin., 1996, Birokrasi, Yogyakarta, Tiara Wacana Yogya;

Dwiyanto, Agus., 2015, Reformasi Birokrasi, Kembali ke Jalan Yang Benar, Yogyakarta, Gadjah Mada University Press;

Dwiyanto, Agus., 2012, Reformasi Birokrasi Publik di Indonesia, Yogyakarta, Gadjah Mada University Press;

Gde Putra Agung, A.A., 2009, Peralihan Sistem Birokrasi dari Tradisonal ke Kolonial, Yogyakarta, Pustaka Pelajar;

Husni, Anang., 2009, Hukum, Birokrasi dan Budaya, Yogyakarta, Genta Publishing;

Mustafa, Delly., 2013, Birokrasi Pemerintahan, Bandung, Alfabeta;

Lapananda, Yusran., 2018, Perjalanan Dinas Undercover, Jakarta, RM Books;

Said, Masúd M., 2007, Birokrasi Dinegara Birokratis, Yogyakarta, UMM Press;

Setiyono, Budi., 2012, Birokrasi Dalam Perspektif Politik dan Administrasi, Bandung, Nuansa.

Older Entries

%d blogger menyukai ini: