NOVEL : AIR MATA KEBENARAN PAK KADIS

Bagian Kesatu

Awal Kegersangan

YUSRAN LAPANANDA

Mentari pagi hari ini, 6 Oktober 2015 memancarkan keganasannya dalam kemarahannya yang panjang. Cuaca panas terik melanda. Tiga bulan sudah tanah dan popohonan belum tersentuh air hujan. Embunpun enggan keluar dari persembunyiannya. Benar-benar bukan main gersangnya. Sebagian besar tanaman petani mulai mengering, air disawah tak lagi terlihat, air sungai menyusut dan sedikit mengalir. Benar-benar mengering dan sudah memasuki musim kemarau.

Kekeringan, sepertinya membuat para petani hidup dengan kegersangan. Aktivitas petani setiap hari hanya berharap kapan turunnya hujan. Terlihat para petani masih mengumbar senyum dengan mengais sisa-sisa kehidupannya. Namun demikian pepohonan masih berdiri kukuh walaupun tanpa sayap. Mungkin karena pepohonan menyimpan banyak air dalam tubuhnya sampai pada kakinya. Bahkan pohon yang sudah senjapun masih tetap kukuh berdiri. Anginpun masih mengalir seperti biasanya. Membuat dedauanan pepohonan yang mengering berjatuhan. Udaranya yang menghembuskan hawa yang tak bersahabat hingga membuat gerah perasaan.

Pagi ini jarum jam berada pada angka 07.00 pertanda aku harus menuju kantor. Jarak tempuh dari rumahku kekantor menghabiskan waktu normal 30 menit. Sehingga dengan waktu normal 30 menit jika aku berangkat dari rumah 07.15 perkiraan waktu tiba dikantor sekitar 07.45. Akupun mulai menghidupkan mobil. Memang sopir yang menemaniku tak masuk kantor hari ini. Tepat jam 07.15 aku pun menggerakkan kaki kananku dengan menekan pedal gas dan mengendorkan pedal kopling dan mobilpun bergerak.

Sepertinya burung-burung ikut mengantarku. Mereka sepertinya tidak merasakan secara langsung gersangnya tanah, udara yang panas, teriknya sang mentari. Mereka terbang dengan menari-nari kejar mengejar, mencicit, tak peduli apa yang para petani rasakan. Selain ditemani istriku kekantor akupun ditemani oleh tembang-tembang penyemangat pagi yang dipancar luaskan oleh salah satu radio swasta. Terdengar lagu “Hio” dari Swami (Iwan Fals dan Sawung Jabo). Lagu ini memang menjadi lagu favoritku, selalu menjadi lagu hits dari radio swasta ini. Didendangkan tepat setiap aku dalam perjalanan menuju kantor. Kritikan sosial sangat kental dalam syair lagu ini. Bercerita tentang kejujuran hati dan harumnya hati seseorang yang tak mau mengingkari hati nurani. Lagu ini sama benarnya dengan arti Hio, dupa cina yang berarti harum atas kejujuran hati.

 

Hioooooo

Aku tak mau terlibat segala macam tipu menipu.

Aku tak mau terlibat segala macam omong kosong.

Aku mau wajar-wajar saja.

Aku mau apa adanya.

Aku tak mau mengingkari hati nurani.

 

Aku tak mau terlibat persekutuan manipulasi.

Aku tak mau terlibat pengingkaran keadilan.

Aku mau jujur jujur saja.

Bicara apa adanya.

Aku tak mau mengingkari hati nurani.

Hio hio hio hio hio

Hio hio hio hio hio.

Hoo hoo hoo.

Hoo hoo hoo.

 

Aku tak mau bicara yang tentang aku sendiri tidak tahu.

Aku tak mau mengerti kenapa orang saling mencaci.

Aku mau sederhana.

Mau baik baik saja.

Aku tak mau mengingkari hati nurani.

 

Aku tak mau kehilangan akal sehat dipikiranku.

Aku tak mau menyaksikan ada orang yang dihinakan.

Aku hanya tahu.

Bahwa orang hidup.

Agar jangan mengingkari hati nurani.

Hio hio hio hio hio.

Hio hio hio hio hio.

Hoo hoo hoo.

Hoo hoo hoo.

 

Aku mau wajar wajar saja.

Aku mau apa adanya.

Aku mau jujur jujur saja.

Bicara apa adanya.

Aku mau sederhana.

Mau baik baik saja.

Aku hanya tahu.

Bahwa orang hidup.

Agar jangan mengingkari hati nurani.

Hio hio hio hio hio

Hio hio hio hio hio.

Hoo hoo hoo.

Hoo hoo hoo.

Aku tak mau mengingkari hati nurani.

Aku tak mau mengingkari hati nurani.

Aku tak mau mengingkari hati nurani.

Aku tak mau mengingkari hati nurani.

 

Emosi dan kelabilankupun hanyut kedalam irama dan dentuman serta hentakan-hentakan musik yang diiringi suara yang mengetar jiwa. Akupun ikut dalam lantunan syair demi syair yang menyayat jiwaku sebagai seorang kuli birokrasi dan pekerja pemerintahan. Rohku memberontak. Aku tak mau terlibat segala macam tipu menipu. Aku tak mau terlibat persekutuan manipulasi. Aku tak mau terlibat pengingkaran keadilan. Aku mau jujur jujur saja. Aku tak mau mengingkari hati nurani. Istrikupun dengan senyuman khasnya dengan goresan garis lurus pada bibirnya yang terlukis keikhlasan, kejujuran dan kesucian turut mengiyakan jiwaku yang terurai kedalam syair dan lagu yang dilantunkan Sawung Jabo dan Iwan Fals.

Tersadar aku, syair dan lagupun akan berakhir. Kurang lebih 9 menit aku hanyut dalam alam sadar tentang kejujuran. Aku mau wajar wajar saja. Aku mau apa adanya. Bicara apa adanya. Aku mau sederhana. Mau baik baik saja. Aku hanya tahu. Bahwa orang hidup. Agar jangan mengingkari hati nurani.

Dipenghujung lagupun terdengar deringan buntut handphoneku, terbaca nama ajudan Bupati memanggilku. Mobilpun kutepikan. Suara musik radiopun kukecilkan, kutekan tombol volumenya kebawah. Kumulai pembicaraan.

“Asalamu alaikum”.

“Pak Bupati mau bicara pak kadis”.

“Ok”, jawabku.

“Pa kadis, acara penandatanganan NPHD (Naskah Perjanjian Hibah Daerah) ke STAIN (Sekolah Tinggi Administrasi dan Ilmu Negara) hari ini Jam 10???.” tanya pa Bupati.

“Benar, pak”.

“Siapkan, acaranya”.

“Baik, pak”.

Akupun melanjutkan perjalananku menuju kantor.

Pagi ini, panas terik matahari tak mengganggu berbagai kegiatan kesaharian masyarakat. Perdagangan, jual beli dipasar-pasar, pertokoan terus berjalan. Sepertinya tak terganggu dengan musim kemarau. Perbankan tetap dengan lalu litas pinjam meminjam uang dan transakasi lainnya. Buruh bangunan dan para tukang pun seperti biasa bekerja menyelesaikan kontrakan pekerjaan bangunan perkantoran maupun rumah-rumah penduduk. Itulah yang terlihat disepanjang jalan menuju kantor.

Begitupula dilingkungan pemerintahan, kegiatan-kegiatan dan rapat-rapat silih berganti. Mulai dari rutinitas apel pagi, perumusan kebijakan, perencanaan dan pelaksanaan program/kegiatan hingga urusan pekerjaan yang sangat prioritas dan diidolakan pejabat daerah dan pimpinan/anggota DPRD, perjalanan dinas luar daerah dan pekerjaan fisik untuk beroleh fee proyek hingga honor-honor.

Terlihat, beberapa SKPD melaksanakan apel pagi. Adapula SKPD yang tidak melaksnakan apel pagi tapi mereka melaksanakan rapat evaluasi diruang rapat. Apel pagi kebijakan peninggalan kolonial penjajah Belanda maupun Jepang dikala itu yang dengan sengaja diawetkan oleh para pejabat-pejabat didaerah yang terhalusinasi dengan pengecekan kehadiran dan keutuhan jumlah pasukan untuk menindas dan menginjak-menginjak harga diri bangsa dan Negara serta rakyat Indonesia kala itu. Apel pagi dianggap oleh para pejabat kolonial untuk mengisi waktu dipagi hari dan untuk menghabiskan waktu bagi pejabat-pejabat yang tak punya visi untuk menyelesaikan tugas-tugas kedinasan yang menumpuk dan untuk mengejar target kinerja yang menjadi tanggungjawab mereka. Kapan negeri ini menjadi organisasi berkinerja tinggi dan mendunia?, jika para pejabatnya berfikir dan berperilaku kolonial.

Apel pagi oleh sebagian pejabat dan ASN hanyalah rutinitas untuk menggugurkan kewajiban. Apel pagi pun oleh sebagaian ASN sebagai pemenjaraan bathin yang ikut apel pagi, oleh karena yang ditindas dan dihalunisasi oleh pejabat penerima apel adalah mereka-mereka yang benar-benar hadir apel pagi tepat waktu, sedangkan yang terlambat tidak ikut tertindas oleh ujaran-ujaran yang tak karu-karuan dari pejabat penerima apel. ASN yang ikut apel pagi pun tak sebanding dengan deretan nama-nama anggota pasukan yang tercatat pada lembaran-lembaran kertas yang namanya daftar hadir.

Beragam cara, gaya dan bahasa pejabat penerima apel terlihat dikala Ia berdiri didepan selaku penerima apel pagi. Siap gerak, bubar tanpa penghormatan. Itu saja yang disampaikan. Respon peserta apelpun beragam. Kecewa, tertawa, senyum sinis, diam hingga berjalan dengan mata dan jiwa menerawang. Siap gerak, belum ada penyampaian hari ini. Hanya itu saja. Kecewa dan kecewa, tertawa dan lain-lain. Padahal peserta apel sudah menunggu beberapa waktu lamanya dan akhirnya hanya mendengar ocehan-ocehan pejabat penerima apel seperti itu. Berapa waktu terbuang percuma hanya untuk menunggu ocehan-ocehan itu. Kapan berakhir?. Paling tidak penerima apel menyampaikan sebatas berita-berita kegiatan disertai dengan stand up comedy, inipun mengundang tawa peserta apel. Sepertinya penerima apel senangnya bukan main disaat lelucon-lelocunnya ditanggapi dengan tawa peserta apel. Ada juga pejabat penerima apel, serius dalam berbagai penyampaiannya dengan berbagai konsep yang panjang dan melebar, menyala-nyala matanya, mengebu-mengebu dadanya, menyentak-nyentak kaki dan tangannya hingga berbusa-busa mulutnya. Namun oleh karena tempat dan situasi yang penuh ketidaknyamanaan, gerah dengan terik matahari dan pegal badanya karena berdiri, apa yang disampaikanpun lewat begitu saja, tanpa bekas.

Ternyata setelah dipooling, kebanyakan peserta apel lebih menyukai cara, gaya dan bahasa penerima apel, “Siap gerak, bubar tanpa penghormatan”. Pegal dan gerah berdiri jika apel dilakukan terlalu lama itu secuil alasannya. “Kami maunya dievaluasi kineja selama seminggu sebelumnya dan tugas-tugas apa yang akan dikerjakan seminggu kedepan?”, sepenggal suara ASN yang disampaikan secara sayup-sayup, jika disampaikan secara terbuka takut dimutasi karena mutasi adalah senjata penguasa pemerintahan daerah saat ini, dibuang  jauh dari tempat tinggal dengan dibungkus pameo Aparatur Negara siap ditempatkan dimana saja berada. Apalagi disampaikan lewat medsos, takut dilaporkan dan akhirnya dipidana.

Sebenarnya keinginan peserta apel ini sudah sampai ketelinga pejabat-pejabat penerima apel. Akan tetapi selain ingin mengawetkan kebijakan peninggalan kolonial penjajah Belanda maupun Jepang dikala itu, para pejabatpun punya alasan lain. Ternyata, apel pagi model duduk diruangan dengan konsep evaluasi kinerja mingguan sudah dibuat dan dilaksanakan oleh pejabat di SKPD lainnya. Gengsi dong ikut-ikutan????.

Akupun terjaga dari wahamku yang mengantung pada langit tak bertali. Terasa aku hampir tiba dikantor, terlihat kawasan perkantoranku Badan Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Gorontalo Selatan yang terletak diketinggian dengan konstruksi 3 lantai bersebelahan dengan Kantor Bupati Gorontalo Selatan. Tepatnya 07.58 aku tiba dikantor. Waktu ini sedikit molor dari waktu normal, akibat harus meladeni telfonnya Pak Bupati. Sebelumnya singgah dikantor istriku untuk melepasnya menunaikan tugas kedinasannya. Dikecupnya tanganku dan sebaliknya kukecup keningnya sebagai ungkapan rasa cinta dan sayang antara suami istri sebagai tanda perpisahan sementara waktu selama 8 jam kerja untuk 1 hari kerja.(*)

Novel ini adalah cerita fiksi sehingga seluruh cerita dalam buku ini adalah fiktif, jika terdapat kemiripan nama, tokoh, tempat atau kejadian itu hanyalah kebetulan saja.

(Bersambung)

Iklan