SERIAL: LAW OF ATTRACTION

MILU CUDE DAN SISIR KUTU

YUSRAN LAPANANDA, SH., MH. 
PECANDU IMAJINER

milkyway2Sudah menjadi rutinitas keluargaku (aku, istri dan anak) jika di hari Sabtu atau Minggu pagi bersama ke tempat pelelangan ikan (TPI) kampung tenda. Ke TPI bukan saja belanja ikan-ikan segar non kolesterol, juga belanja keperluan dapur lainnya (rempah-rempah) yang turut dijual di TPI.

Sebenarnya dibalik rutinitas belanja ikan dan rempah-rempah di hari Sabtu atau Minggu pagi di TPI, dilakukan demi penghematan biaya untuk kebutuhan rumah tangga dan berkaitan dengan memenuhi stok ikan dan rempah-rempah selama seminggu, yang tentunya hal ini tak dapat kami lakukan dengan profesi kami sebagai ASN jika dilakukan setiap hari.

Selain itu, rutinitas ke TPI dengan mengajak keluarga lebih mendekatkan hubungan emosional keluarga. Memberi ruang kepada keluarga untuk bersama-sama menikmati perjalanan bersama dengan melihat dan memandang lautan luas nan biru dari tepi TPI. Juga melepaskan berbagai beban pekerjaan di kantor selama seminggu yang sangat membutuhkan energi dan pikiran guna kelangsungan pelayanan dan pelaksanaan pemerintahan yang baik dengan bekerja secara profesional dan berintegritas dalam bertugas.

Juga dengan bersama keluarga ke tempat TPI dan sebentar bersama melihat dan memandang lautan lepas nan biru, terlepas pula berbagai beban, bayangan dan khayalan tindakan “kejahatan” pemerintahan sesama pejabat, antara atasan dan bawahan, sesama bawahan, yang saling memfitnah, saling menghujat, kecemburuan, iri hati, tipu-menipu, kemunafikan, pembusukan sesama, pengingkaran kebenaran, penyembahan kesalahan/kebodohan, pemufakatan jahat, sikut menyikut, tendang menendang, saling curiga mencurigai, saling menjatuhkan, pikiran korupsi dan peristiwa korupsi, yang ujung-ujungnya merugikan pemerintahan dan masyarakat.

Ketika dalam perjalanan menuju TPI, di area menanjak akupun berhenti atas perintah istri. Ternyata istriku berkeinginan untuk beli jagung pipilan “milu cude”. Istriku pun membeli 1 (satu) liter dengan harga Rp. 10.000. tanpa proses tawar menawar, tanpa curiga dengan permainan harga sang penjual, istriku pun percaya penuh dengan harga yang ditawarkan dan istrikupun ikhlas yang terlihat dari wajahnya. Kami pun meneruskan perjalanan menuju TPI yang jaraknya tak jauh lagi.

Seperti biasa kami pun mulai belanja ikan dan rempah-rempah barengan bersama anak-anak. Usai berbelanja kami mulai mengatur belanjaan di mobil, saat itupun istriku bercerita tentang kejadian yang dialami saat berbelanja “sisir kutu rambut”. Sambil istriku bercerita kami pun jalan menuju tepian laut di area TPI.

“Tadi aku ketika mau beli “sisir kutu rambut”, terlihat seorang pria separuh baya juga sementara menawar “sisir kutu rambut” itu.” Istriku mulai bercerita kejadian yang dialaminya tadi.

“Terdengar olehku, si pembeli menanyakan berapa harga “sisir kutu rambut” itu. Si penjual pun memberi tahu harganya Rp. 5.000/pcs. Dan si pembeli menawarnya Rp. 2.000/pcs. Si penjual menjelaskan bahwa barang ini dibelinya dengan harga Rp. 3.750/pcs sehingga keuntungannya Rp. 1.250/pcs. Jika barang itu saya jual Rp. 2.000/pcs maka rugilah si penjual. Si penjual pun menambahkan bahwa dari pertama saya buka jualan sampai sekarang belum ada yang beli, sehingga rugilah saya hari ini,” jelas istriku.

“Nah, disaat itu aku menanyakan harga “sisir kutu rambut” itu berapa? tanya istriku ke penjual.

“Rp. 5.000/pcs bu,” jawab si penjual.

“Aku ambil 2 (dua) pcs, ini uangnya Rp. 10.000,” istriku sambil menyerahkan uang dan si penjual menyerahkan barangnya.

“Saat itu pula, si bapak yang menawar sebelumnya dengan muka marah menghardik aku.”

“Ibu mentang-mentang ada uang ya.”

“Bapak itu sepertinya marah kepada aku, karena aku langsung membayar tanpa menawar dan mengikuti harga si penjual.”

“Akupun berlalu, tanpa menghiraukan ocehan si bapak itu.”

“Pak … kenapa bapak itu begitu marahnya padaku, aku khan tidak tahu apa yang membuatnya tersinggung dan marah,” tanya istriku.

“Itulah perilaku orang-orang dan kehidupan sekarang, orang yang tulus dan ikhlas malah dihardik, dimarahi, disingkirkan malahan bisa-bisa dihabisi,” jawabku.

Tak terasa kami pun sudah dalam mobil untuk kembali ke rumah, mobil pun bergerak perlahan. Tak jauh dari TPI, kami pun melihat seorang ibu berdiri di pinggiran jalan dan sepertinya Ia mau menawarkan sesusatu, dan akupun mendekatkan mobil kepadanya dan berhenti tepat didepan pintu depan mobil yang ditempati istriku.

“Jagung pipilan “milu cude” bu, Rp. 2.000/liter, tinggal ini bu, beli saja bu,” si ibu penjual menawarkan dagangannya, dan tanpa menawarpun istriku membelinya.

“Ya bu, saya ambil 5 (lima) liter, ini uangnya Rp. 10.000.” Si penjual pun menyerahkan 5 (liter) jagung pipilan “milu cude” yang sudah dikemas dalam tas plastik.

Kami pun melanjutkan perjalanan menuju rumah. Di perjalanan itupun, kami terhenti oleh kerumunan orang. Sepertinya terjadi kecelakaan. Akupun tetap jalankan mobil namun secara pelan-pelan. Begitu herannya aku dan istriku ternyata yang kecelakaan itu adalah Bapak yang menawar “sisir kutu rambut” tadi. Sepertinya ini kecelakaan tunggal, Bapak ini jatuh sendiri dari sepeda motor yang Ia tunggangi. Dan terlihat, ikan-ikan hasil belanjaan si Bapak itu semuanya tumpah kejalan, dan terlihat Bapak itu, terluka di pelipisnya.

Mobil kami berjalan terus secara pelan-pelan, di saat kami menoleh ke arahnya, si Bapak pun secara kebetulan menoleh kepada kami, dan Ia pun langsung menundukkan kepalanya, sambil menahan rasa sakit, dan mulai mencoba mengumpulkan belanjaan ikannya yang masih bisa diambil.

Kami pun berlalu.

Dalam perjalanan pun istriku bertanya, “apa hikmah dari kejadian tadi itu pak, mulai dari cerita beli jagung pipilan “milu cude” yang pertama, beli “sisir kutu rambut” dan marahnya si bapak tadi, beli jagung pipilan “milu cude” lagi dan terakhir kecelakaan si Bapak.”

“Saya pernah membaca status diakun seseorang tapi saya lupa di bbm atau di facebook yang intinya, ……jika gajimu Rp. 5 jt perbuan sedangkan hasil kerjamu 10 jt perbulan maka kekurangan antara hasil kerjamu dengan gajimu akan kau dapatkan dari penerimaan yang halal dari yang lain, dan jika gajimu Rp. 10 jt perbulan sedangkan hasil kerjamu hanya Rp. 5 jt perbulan maka kelebihan antara gajimu dengan hasil kerjamu akan dikurangi dari misalnya sakit, kecelakaan, dan lain-lain,” jelasku kepada istriku.

“Jadi dari status dan rangkaian cerita tadi bisa aku tafsirkan begini, ketika kau membeli jagung pipilan “milu cude” yang aku anggap mahal tapi kamu membelinya tanpa menawar dan kau ikhlas, kemudian di saat kau membeli “sisir kutu rambut” tanpa menawar dan sepertinya kau membantu si penjual yang belum terjual barangnya, dan kamu dihardik dan dimarahi oleh si Bapak tanpa salah dan kau diam tanpa meladeninya, maka yang terjadi adalah kau mendapatkan kembali harga jagung yang sangat murah dari si ibu yang menjual di pinggir jalanan.”

“Dan akhirnya si Bapak tadi mendapat kecelakaan dan ikan-ikan belanjaannya tak bisa dipakai lagi yang lainnya,” jelasku kepada istriku.

Inilah law of attraction (hukum ketertarikan atau hukum tarik menarik) yang dipopulerkan oleh Michael J. Losier, hukum magnetisme. Hukum magnetisme yaitu hukum yang memiliki akar pada karma atau sebab akibat. Apa yang kita tabur, itulah yang kita tuai. Energi yang kita pancarkan (vibrasi) baik positif maupun negatif akan menghasilkan sesuatu yang sama dalam alam semesta.

Tak terasa kamipun tiba di rumah, dan semua hasil belanjaan ikan dan rempah-rempah untuk kebutuhan seminggu kami turunkan dari mobil.(*)

Selesai