Serial: Pejabat Undercover

GAYA MENYAPA PEJABAT

YUSRAN LAPANANDA, SH. MH*

Pejabat undercover

Pejabat.!!!!!!!!!! Pejabat oleh kebanyakan orang diidentikkan dengan sifat keangkuhan dan sifat kesombongan, Pejabat, kadang dipersonifikasikan dengan korupsi, kemaksiatan, narkoba hingga judi, mabuk-mabukan dan berbagai penyakit jiwa dan penyakit masyarakat lainnya.

Tapi tak jarang pejabat juga disamakan dengan kesucian dan keteladanan, kadang pula terkesan mempesona. Pejabat, adalah manusia yang dihormati, disegani, dipatuhi, disanjung oleh berbagai kalangan di lapisan strata masyarakat apalagi oleh ASN. Ini dikarenakan selain jabatan yang melekat padanya, juga dikarenakan oleh sikap, perilaku, tindakan, perbuatan yang diperlihatkan dan diperagakan oleh pejabat dan dinilai baik oleh masyarakat.

Berikut ini beberapa arti sombong, angkuh dan wibawa menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga, Departemen Pendidikan Nasional, Balai Pustaka, Jakarta 2005. Sombong, diartikan menghargai diri sendiri berlebihan. Angkuh, diartikan sifat suka memandang rendah kepada diri orang lain, tinggi hati. Wibawa, diartikan pembawaan untuk dapat menguasai dan mempengaruhi dihormati orang lain melalui sikap dan tingkah laku yang mengandung kepemimpinan dan penuh daya tarik; kekuasaan.

Di lingkungan ASN (aparatur sipil Negara), personifikasi seorang pejabat sama dengan tafsir oleh kebanyakan orang. ASN menilai pada kecenderungan, pejabatpun sama dengan keangkuhan dan kesombongan hingga menjaga jarak dengan staf/bawahan, tak mau mendekati bawahan untuk menjaga kewibawaan.

Pejabat yang angkuh dan sombong kecenderungannya adalah tidak bisa memahami perasaan orang lain. Kadangkala pejabat yang terkesan sombong dan angkuh atau dinilai sombong dan angkuh oleh ASN lebih pada ketidaktahuan atau di luar kesadaran pejabat, atau lebih pada karakter sang pejabat.

ASN sebenarnya tidak peduli dengan karakter seorang pejabat yang angkuh dan sombong. ASN menganggap pejabat yang sombong tidak punya relevansi dengan eksistensi diri dan keberadaan ASN. Pejabat yang sombong dan angkuh lebih pada “kerusakan” pada performance organisasi.

Namun demikian, kebanyakan orang menilai tidak semua pejabat punya karakter/watak (tabiat; sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain) sombong dan angkuh. Kebanyakan orang menilai masih banyak pejabat yang punya karakter/watak tidak sombong dan tidak angkuh. Kecenderungan, pejabat tidak sombong dan tidak angkuh dirasakan dan dialami pula oleh para ASN. Penilaian atas pejabat tidak sombong dan tidak angkuh dirasakan dan dialami pula oleh para ASN lebih pada keseharian. Kecenderungan, penilaian ASN atas pejabat lebih pada, pejabat mudah senyum kepada staf/bawahan, pejabat gampang diajak bicara oleh staf/bawahan, hingga pejabat menyapa staf/bawahan, dan gaul (hidup berteman/bersahabat). Sebaliknya ASN menilai terbalik pejabat sombong dan angkuh itu dengan kecenderungan, pejabat kurang senyum, pejabat menjaga jarak antara atasan dan bawahan, pejabat tak mau menyapa staf/bawahan, pejabat kurang membaur dengan staf/bawahan, pejabat kurang ramah dengan staf/bawahan. pejabat bersua dan menatap staf/bawahan dengan hampa, pejabat kurang gaul dan lain-lain kecenderungan.

Menyapa, diartikan mengajak bercakap-cakap; menegur…..sedangkan gaya, diartikan (1. kesanggupan untuk berbuat dan sebagainya; kekuatan; 2. dorongan atau tarikan yang akan menggerakkan benda bebas (tak terikat)/besaran yang mempunyai besar dan arah tertentu/suatu interaksi yang bila bekerja sendiri menyebabkan perubahan keadaan gerak benda).

Gaya menyapa pejabat, menjadi media yang paling tepat untuk mendekatkan hubungan bathin dan komunikasi antara pejabat dan staf/bawahan dalam menyelenggarakan roda organisasi pemerintahan atau organisasi manapun termasuk swasta. Kecenderungan gaya menyapa pejabat yang diinginkan/diharapkan oleh ASN dan kebanyakan orang sangatlah sederhana, sehingga tidak terkesan sombong dan angkuh adalah senyum (gerak tawa ekspresif yang tidak bersuara untuk menunjukkan rasa senang, gembira, suka, dan sebagainya dengan mengembangkan bibir sedikit); jabat tangan (bersalaman dengan saling menjabat tangan); menepuk pundak/lengan; mengangkat/melambaikan tangan (kanan atau kiri); menyapa dengan “apa kabar” sesekali menyebut “nama” dan sebagainya tergantung gaya menyapa pejabat.

Kecenderungan gaya menyapa pejabat: senyum; jabat tangan/bersalaman; menepuk pundak/lengan; mengangkat/melambaikan tangan (kanan atau kiri), menyapa dengan apa kabar adalah gaya menyapa standar minimal pejabat. Sebagian pejabat “malah” sudah melakukan sesuatu yang lebih untuk menyapa staf/bawahan dengan menggunakan teknologi/media sosial yang ada misalnya facebook dan media sosial lainnya.

Yang lebih dari kesemuanya itu adalah gaya menyapa pejabat dengan selfie (bersama) atau foto bersama dengan bawahan/staf. Selfie atau foto bersama biasanya diambil dengan kamera digital genggam atau kamera ponsel. Foto selfie biasanya juga menggunakan ekspresi yang berlebihan. Selfie secara harafiah seringkali diartikan sebagai aktivitas memotret diri sendiri. Jika ditelusuri, pengertian ‘Selfie’ menurut referensi pustakawan Britania adalah “sebuah pengambilan foto diri sendiri melalui smartphone atau webcam yang kemudian diungguh ke situs web media sosial.” Kebanyakan orang beranggapan kata “selfie” adalah nama perempuan. Sebenarnya kata “Selfie” singkatan dari “Self Potrait” yaitu foto hasil memotret sendiri dengan menggunakan webcam, pocket camera atau smartphone lalu hasilnya di upload ke media sosial.

Gaya menyapa pejabat dengan atau melalui selfie atau foto bersama inilah yang menjadi catatan saya, dan memberi ruang serta kesan yang luar biasa atas gaya menyapa pejabat. Sering kali terlihat, beberapa pejabat melakukan selfie atau foto bersama dengan staf/bawahan dengan gaya menyapa pejabat.

Terlihat, misalnya sekelompok ASN selfie bersama atau foto bersama untuk merayakan atau melampiaskan rasa gembira mereka disaat memperoleh penghargaan yang mereka cita-citakan dan idam-idamkan. Tatkala staf/bawahan berselfie ria tiba-tiba pejabat menyela untuk ikut selfie, nimbrung bersama staf/bawahan dengan gaya bebas tanpa rekayasa protokoler. Dan jepret……………. ekspresi hasil dari foto selfie bersama itupun cukup memberi kesan bahwa pejabat ini tak sombong dan tak angkuh, dan sesekali pejabat tersenyum, tertawa, bersalaman dengan staf/bawahan dan akhirnya foto selfiepun usai, benar-benar mempesona.

Mungkin inilah salah satu gaya menyapa pejabat yang dikehendaki oleh kebanyakan orang dan ASN???, Tapi bukan pada selfienya atau foto bersamanya, akan tetapi lebih pada ikutnya pejabat dan disertai dengan senyuman, tawa dan canda, salaman……dan ucapan terima kasih sang pejabat kepada staf/bawahan.

Wallahu a’alam bis’hawab…….(*)

*) Aparatur Sipil Negara (Pegawai Negeri Sipil).