Oleh
Yusran Lapananda, SH., MH.

Pecandu Imajiner

petani72Di suatu desa terpencil hiduplah keluarga petani miskin. Pekerjaan serabutan baik sang suami maupun sang istri dengan 2 (dua) anak yang sudah sekolah di sekolah dasar.

Rumah layak huni atau mahayani, itulah tempat tinggal mereka. Rumah yang diklaim oleh pemerintah/pemerintah daerah saat ini layak untuk ditempati oleh keluarga di Indonesia atau rumah bahagia versi ahmad albar (Group Band Godbless) dalam lagunya “Rumah Kita”.

Dengan program pemerintah/pemerintah daerah melalui pemberian bantuan langsung maupun bantuan stimulan (materiil) kadang mereka terima akan tetapi sudah tak utuh (dipotong), mereka sudah didata namun juga bantuannya tak kunjung diterima, atau tetangga mereka sudah didata dan menerima bantuan walaupun tak utuh namun mereka belum menerima, atau kadang mereka terlewati didata sebagai penerima bantuan.

Misalnya mereka sudah didata untuk menerima mahayani siap bangun, tapi yang terjadi adalah mereka hanya menerima dan menandatangani 5 (lima) lembar seng, dan 5 (lima) sak semen. Mereka sudah didata untuk menerima bantuan modal usaha yang kemudian sudah bertahun-tahun tak kunjung diserahkan, dan lain-lain bantuan yang tak utuh diterima alias sudah dipotong.

Itulah gambaran kehidupan mereka, sebagaimana amanat UUD 1945 pasal 34 ayat (1), “fakir misikin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh Negara”. Siapakah yang salah? Negara, Pemerintah/Pemerintah Daerah atau Pelaksana (aparatur sipil Negara/PNS) atau Petani itu Sendiri.

Galau, panik, pasrah, mengemis, melawan, …… Bangkit … mencoba bermohon lagi ……. kepada para penguasa dan pelaksana (Negara, Pemerintah/Pemerintah Daerah atau Pelaksana/Aparatur Sipil Negara/PNS) serta kepada siapa saja yang bisa menolongnya. Campur baur di pikiran dan hati petani ini, dengan satu tekad dan keputusan, “saya akan bermohon kepada Tuhan Yang Maha Esa ………”.

Terpikirlah (bukan ide, inovasi, proyek perubahan, organisasi berkinerja tinggi) olehnya “petani miskin” untuk membangun usaha sehingga harus bermodal awal. Tapi, trauma yang sudah lama terpatri dalam pikiran dan hati petani, tidak mungkin lagi petani ini bermohon kepada Negara, Pemerintah/Pemerintah Daerah atau Pelaksana (Aparatur Sipil Negara?PNS), “aku tak percaya lagi kepada mereka-mereka semua itu ……. (Negara, Pemerintah/Pemerintah Daerah atau Pelaksana/Aparatur Sipil Negara/PNS)”.

Terpikirlah olehnya bermohon mendapatkan modal usaha kepada Tuhan Yang Maha Esa. Seketika ia menulis surat dengan bunyi suratnya sebagai berikut:

Kepada Yth.

Tuhan Yang Maha Esa, dimana saja berada.
Saya butuh bantuan modal usaha sejumlah Rp. 1.000.000. (satu juta rupiah).

Terima kasih

Pengirim.

Petani

Desa aaa dusun bbb RT/RW ccc Kecamatan ddd Kabupaten eee Provinsi fff.

Dengan rasa ingin dan harapan untuk beroleh bantuan utuh yang tak dipotong. Pergilah Sang Petani membawa suratnya ke Kantor Pos terdekat. Betapa kagetnya petugas pos setelah membaca alamat yang dituju dan tak dapat diregistrasi. Terjadilah kegaduhan, untunglah salah seorang Tukang Pos berada di tempat registrasi dan mengetahui alamat yang dituju oleh Petani ini. Karena si Tukang Pos tahu benar orang yang sering memberi bantuan kepada orang-orang miskin. Ya …. si Tukang Pos tahu dialah salah seorang pejabat pemerintah daerah di suatu daerah Kabupaten. Diantar dan diserahkannyalah surat itu kepada pejabat yang dia kenal itu.

Sang pejabat setelah membuka dan membaca surat itu, tersenyum … dengan satu tekad akan membantu Petani ini dengan tulus dan ikhlas bersama-sama stafnya. Yang pasti uang ini adalah uang pribadi-pribadi PNS dan bukan uang kantor yang di-SPJ pada kegiatan-kegiatan (ATK, toto copy, makan minum, potongan perjalanan dinas dalam daerah, dan lain-lain) atas perintah atasan guna pencitraan. Dengan uang saweran/rembukan terkumpullah uang sejumlah Rp. 500.000. (lima ratus ribu rupiah).

Untuk menyerahkan bantuan uang sejumlah Rp. 500.000. (lima ratus ribu rupiah) kepada petani ini disepakatilah oleh sang pejabat bersama-sama staf menunjuk dan mengutus 2 (dua) orang staf PNS untuk menyerahkan langsung kepada sang Petani. Pergilah 2 (dua) staf PNS itu menuju alamat rumah sang Petani. Setibanya di rumah sang Petani, ternyata 2 (dua) staf PNS ini tidak bertemu dengan sang Petani, yang ada dirumah saat itu adalah sang Istri, sehingga uang saweran/rembukan sejumlah Rp. 500.000. (lima ratus ribu rupiah) yang terisi rapat di dalam amplop hanya diserahkan kepada sang Istri, tentunya disertai dengan tanda terima sebagai bukti kedua PNS kepada pejabat/pimpinannya dan rekan-rekannya.

Sesaatnya, sang Istri menyerahkan amplop yang diserahkan oleh kedua PNS itu kepada sang Suami, mereka pun membuka amplop secara bersama-sama, dan ternyata isi amplop adalah sejumlah uang. Betapa bahagianya sang Petani bersama istrinya, ternyata permohonan mereka kepada Tuhan Yang Maha Esa melalui sehelai surat terkabulkan.

Namun, sesaat setelah uang dihitung …… sang Petani terlihat raut wajah seperti sedih … dan kecewa … ternyata keinginan dan harapannya beroleh bantuan uang sejumlah Rp. 1.000.000. (satu juta rupiah) ternyata yang dikirim hanya Rp. 500.000. (lima ratus ribu rupiah). “Jangan-jangan dipotong lagi oleh tukang pos atau yang mengantarnya”.

“Bu, siapa yang mengantar amplop ini???”, tanya sang petani kepada istrinya. “Tadi, yang mengantarnya orang yang berseragam PNS tapi saya tidak sempat tanya, apakah mereka itu PNS dari mana, Kecamatan atau Kabupaten/Provinsi, atau petugas dari Desa”.

Sesaatnya …… sang Petani mengirim surat kembali kepada Tuhan yang Maha Esa:

Kepada Yth.

Tuhan Yang Maha Esa, dimana saja berada.
Lain kali jika memberi bantuan uang jangan lagi melalui PNS (Kabupaten/Kota) atau petugas Desa).

Terima kasih

Pengirim.

Petani

Desa aaa dusun bbb RT/RW ccc Kecamatan ddd Kabupaten eee Provinsi fff.

Surat dari sang petani inipun diantar dan diserahkan lagi oleh Tukang Pos kepada sang pejabat. Sang pejabatpun setelah membaca surat balasan dari sang Petani hanya bisa kaget, terdiam … dan sembari geleng-geleng kepala.

Esensi dari cerita berinspirasi ini, walaupun para abdi Negara dan abdi masyarakat sudah bekerja/membantu secara tulus dan iklhas, bekerja secara profesional dan bertugas dengan integritas …… namun untuk membangun sebuah kepercayaan itu sangat sulit dan mahal harganya.

*) Refleksi cerita pada pembukaan Diklat-TGR di Makassar.