Catatan Di akhir Kerja

YUSRAN LAPANANDA, SH. MH
Pecandu Imajiner

disiplin

Saya benar-benar sadar, judul catatan saya kali ini sangat tendensius. “Disiplin semu: kepala daerah di luar daerah, pejabat di luar kantor, pejabat keluar daerah staf keluar kantor”. Judul ini diangkat dari keprihatinan yang diceritakan secara fiksi oleh Onny kepada saya.

Saya pun memahami dan menyadarinya. Di dalam keseharian di lingkungan pemerintahan, perkataan para abdi negara dan abdi masyarakat terdengar disiplin adalah nafasku, namun kadang perbuatan dan perilaku mereka sangat jauh berbeda antara harapan dan kenyataan, bagai langit dan bumi, bagai warna hitam dan warna putih. Inikah yang disebut disiplin semu? Disiplin semu sama dengan ketaatan/kepatuhan atas peraturan/tata tertib yang penuh tipu/muslihat.

Cerita Onny akan hal ini, sepertinya saya tidak dapat melakukan pembelaan, namun yang dapat saya pledoi/bela adalah tidak semua pejabat maupun staf berbuat dan berperilaku seperti itu, tapi saya tidak menutup mata terdapat pula pejabat maupun staf berbuat dan berperilaku seperti cerita keprihatinan Onny. Onny seperti ingin menunjukkan berbagai hasil pengamatannya akan kebenaran keprihatinannnya melalui investigasi yang dilakukannya.

Onny pun memulai ceritanya. Ketika kepala daerah di luar daerah, maka pejabat pun di luar kantor. Saya sering melihatnya melalui pengamatan yang saya lakukan di setiap pagi hari, siang hari dan sore hari atau di seputar jam kantor di lingkungan pemerintah daerah dimulai jam 08.00 Wita dan berakhir jam 16.00 Wita, ujar Onny.

Fakta atau hasil pengamatan yang dapat saya ajukan saat itu adalah, saya mengecek apakah kepala daerah benar-benar tugas di luar daerah. Benar adanya, kepala daerah bertolak ke suatu kota di luar daerah pada siang hari dengan salah satu maskapai penerbangan. Para pejabat pun tahu, kepala daerah siang itu keluar daerah dan diperkirakan tugas kepala daerah selesai selama 2 (dua) hari kerja. Artinya jika kepala daerah berangkat keluar daerah pada hari selasa siang maka kepala daerah kembali pada hari jumat siang dengan maskapai penerbangan pada pagi hari dan tiba pada siang hari. Saya pun memulai dengan investigasi pada siang hari saat kepala daerah bertolak ke luar daerah.

Fakta pun terlihat, di depan kantor para pejabat, ternyata mobil dinas yang biasa ditumpangi para pejabat pun tak ada terparkir sampai jam kerja usai, jam 16.00 Wita. Investigasi selanjutnya saya mencoba bertanya kepada beberapa staf. Jawabannya pun berbeda-beda. Jawaban yang polos, pejabatnya sudah kembali ke rumah. Jawaban apa adanya, saya tak tahu kemana pejabatnya pergi. Jawaban lainnya, lagi rapat di tempat lain. Dan jawaban pembelaan staf kepada atasannya, lagi tugas sosialisasi atau rapat. Tapi, apakah semua pejabat yang anda investigasi, pejabatnya tak ada di tempat/kantor? sela ku. Ooo… tidak, ada pula pejabat lainnya yang benar-benar masih di kantor menunggu waktu pulang jam 16.00 Wita. Dengan beragam aktivitas, ada yang benar-benar bekerja, dan ada pula yang mengisi waktu bebincang dan bercanda dengan stafnya. Itulah hasil pengamatan Onny, perilaku pejabat pada siang hari menjelang sore, ketika kepala daerah di luar daerah, pejabat pun di luar kantor.

Investigasi saya lanjutkan pada pagi harinya. Untuk kali ini saya benar-benar kaget. Waktu sudah menunjukkan pukul 8 lewat sedikit, yang berarti waktu untuk memulai aktivitas kantor sudah dimulai. Terlihat, mobil-mobil dinas pejabat belum atau tak nampak, hanya beberapa pejabat terlihat. Saya pun menunggu kedatangan para pejabat memulai aktivitas kantornya. Benar adanya, mulai terlihat mobil para pejabat memasuki halaman kantornya nanti pada jam 9 lewat. Lebih memprihatinkan lagi ternyata beberapa pejabat memulai aktivitasnya nanti pada siang hari. Apakah semua pejabat memulai aktivitasnya nanti di jam 9 ke atas? sela ku. Tidak semua, adapula pejabat yang memulai aktivitasnya sebelum jam 8 pagi atau tepat waktu. Tapi, yang sangat memprihatinkan adalah sepertinya pejabat yang terlambat beraktivitas dan cepat pulang sebelum jam pulang, tak punya rasa berdosa sedikitpun akan tanggung jawab yang diberi oleh negara, daerah, pimpinan dan rakyat selaku pemilik kedaulatan pemerintahan. Ternyata, dari pejabat-pejabat yang terlambat dan pulang kantor sebelum waktunya, terdapat pejabat yang pernah menerima “Anugerah Kepegawaian” terbaik dengan kategori pembina kepegawaian di lingkungan SKPD-nya. Busyet …….

Lain halnya, ketika pejabat keluar daerah, maka staf pun ke luar kantor. Keadaan seperti ini sudah sangat lazim terjadi. Akan tetapi modusnya berbeda. Hasil investigasi melalui pengamatan Onny, hampir semua kantor mengalami hal seperti ini. Sebagian para staf di pagi hari menunjukkan diri di saat mengabsensi dirinya hadir, namun ada pula staf yang benar-benar tidak mengabsensi dirinya dan datang ke kantorpun sesukanya. Tapi menjelang siang hari terlihat seperti sudah terjadi kesepakatan di antara mereka, silih berganti keluar kantor tanpa tujuan dan kadang tak kembali lagi. Apakah semua staf yang anda investigasi melalui pengamatan seperti itu? sela ku. Ooo….. tidakkkk, ada juga staf masuk kantor tepat waktu dan benar-benar beraktivitas dengan tugas-tugasnya sampai usai jam kantor. Namun ada pula staf dari mulai masuk kantor sampai dengan berakhir jam kantor, aktivitasnya hanya berbincang dan berdiskusi tanpa tema dan judul yang tak jelas atau karu-karuan. Mulai dengan tema politik lokal, soal pilkada dan sesekali menyoroti para calon kepala daerah/wakil kepala daerah sampai dengan soal politik nasional. Tema lainnya yang sering diperbincangkan dan didiskusikan adalah soal hukum dan keuangan. Kapan kenaikan gaji, sampai besaran perjalanan dinas yang berkurang mulai tahun anggaran 2015. Dan yang pasti, aktivitas paling menonjol adalah aktivitas melengkapi berkas dan mempersiapkan tagihan atas belanja kegiatan yang sudah dilaksanakan maupun yang baru akan dilaksanakan terutama tagihan perjalanan dinas dalam daerah maupun perjalanan dinas luar daerah.

Onny memberi kesimpulan sementara, hal ini lebih pada akibat dari banyaknya pegawai di satu SKPD sedangkan beban kerjanya kurang. Tapi, mengapa terjadi penumpukan staf di satu SKPD yang jelas-jelas beban kerjanya kurang, padahal setiap tahun dilakukan analisis jabatan maupun analisis beban kerja? Apakah, SKPD selaku penanggungjawab distribusi pegawai tidak memperhatikan hasil analisis jabatan maupun analisis beban kerja SKPD? Jangan-jangan para pejabat dan staf SKPD selaku penanggungjawab distribusi pegawai ini, pejabat dan stafnya benar-benar tidak tahu dengan hasil analisis jabatan maupun analisis beban kerja SKPD atau memang mereka tidak bekerja? Sepertinya perpindahan dan penempatan pegawai sekarang ini hanya menggunakan pendekatan irrasional dan lebih pada faktor like and dislike!!!! Onny pun berusaha menjawab semua pertanyaan yang dibuatnya sendiri.

Onny pun menghentikan ceritanya, bersamaan dengan terjaganya Onny dari mimpinya. Busyet kau Onny ….. kali ini saya benar-benar mendengarkan keluhan dan keprihatinan Onny lewat mimpinya. Dan mudah-mudahan, mimpi Onny tak akan pernah menjadi kenyataan.

Selesai