Catatan Di akhir Kerja

YUSRAN LAPANANDA, SH. MH
Pecandu Imajiner

celengan ayam kita

Pagi menjelang siang, sekitar pukul 11.00 WITA di tanggal 2 bulan berjalan di tahun setidaknya pada tahun 2014, antrian terlihat di depan Kantor Kas Bank Sulut Limboto tepatnya di depan Kantor DPPKAD Kabupaten Gorontalo. Mereka antri tentunya untuk suatu kepentingan, ada yang ingin menabung, dan ada juga yang ingin melakukan penarikan uang atas sisa-sisa gaji mereka. Terlihat beberapa bendahara pengeluaran untuk melakukan penarikan atas pembayaran belanja mereka. Semuanya membaur, mereka adalah ASN/PNS/pegawai staf. Terlihat pula pegawai staf DPPKAD yang mendampingi wajib pajak menyetor pajak daerah (pajak reklame, BPHTB, pajak hiburan, pajak restoran, pajak hotel, pajak mineral bukan logam dan batuan yang sebelumnya pajak galian c dan pajak daerah lainnya).

Ketika saya melewati tempat itu terlihat raut muka mereka berbeda-beda. Ada yang sumringah, ada yang bengong, ada yang menerawang, ada yang bercanda sesamanya, ada pula yang senyum-senyum sendiri tanpa sebab, dan macam-macam tingkah laku mereka. Saya berhenti sejenak, dan memperhatikan salah seorang dari mereka yang saat itu benar-benar menerawang dengan tatapan hampa. Saya perhatikan, dia sekali-kali melihat dan membaca selembar kertas dan mulutnya pun komat-kamit, dan sesekali dia menerawang.

Yahhhh …… ternyata Onny orangnya. Di saat saya mendekatinya saat itu pula Onny menenggok saya, dan seketika dia berdiri dan dengan basa-basi dia bersalaman dengan saya. Di saat itu pula, saya menyapa dia, bagaimana kabar …. ???? Ternyata sapaan saya tidak dibalasnya. Onny hanya membalasnya dengan senyuman dengan disertai tatapan hampa ke arah saya. Maaf pa Kadis bisa saya menanyakan sesuatu kepada Bapak? sela Onny. Bisa ….. ke ruangan saya saja!!!! jawabku. Kami pun berdua jalan bersama menuju ke ruangan kerja di lantai 2 Kantor DPPKAD.

Tiba di ruangan, sepertinya Onny kelihatan galau (pikiran kacau tidak karuan), sehingga saya mempersilahkannya duduk. Silahkan duduk …. apa yang anda perlu tanyakan ke saya??? tanyaku. Onny pun memulai cerita keprihatinannya dan keluhannya yang diawali dengan Onny menyerahkan selembar kertas kepada saya. Wah ….. ternyata kertas itu adalah lembaran perhitungan gaji Onny. Saat saya melihat-lihat dan membaca perhitungan gaji, Onny pun menyela, itulah sisa gaji saya pak kadis. Yah ….. memang tertera sisa gaji Onny sebesar Rp. 97.000,00 (sembilan puluh tujuh ribu rupiah). Terlalu banyak potongan pak kadis…..!!!!!. Itulah kenyataan yang dialami Onny. Onny mengais hidup untuk keluarganya bukan dari sisa gajinya, namun lebih pada sisa-sisa potongan dari berbagai organisasi.

Gaji Onny sebagai ASN/PNS Golongan II sebesar Rp. 2.100.000/bulan. dan ditambah dengan TPP (Tambahan Penghasilan Pegawai) sebesar Rp. 500.000,00. sehingga berjumlah Rp. 2.600.000/bulan. Terlihat banyaknya potongan yang menguras gaji Onny. Potongan bank adalah potongan terbanyak, disusul dengan potongan dari berbagai organisasi. Menurut Onny semakin banyak organisasi, semakin banyak pula potongan yang membebani gaji saya pak kadis….!!!!, dengan banyaknya potongan ini membuat saya sebagai ASN/PNS dengan golongan II semakin menderita. Padahal saya juga tidak tahu organisasi ini memberi manfaat buat saya atau tidak. Saya juga belum pernah diberi tahu nomor berapa keanggotaan saya di organisasi itu. Saya juga tidak tahu ke mana uang-uang dari potongan gaji saya mau digunakan oleh pengurus-pengurusnya.

Benar itu…!!!, sela ku. Semestinya pendirian dan pembentukan suatu organisasi itu tujuan utamanya adalah untuk mensejahterakan anggotanya dan bukan untuk menista dan membuat anggotanya menderita. Begitu pula, banyak organisasi yang dibentuk dan untuk menjalankan roda organisasinya harus menjadi beban hidup ASN/PNS, apalagi harus membebani ASN/PNS seperti Onny.

Menurut pa kadis, cukupkah sisa gaji Rp. 97.000. (sembilan puluh tujuh ribu rupiah) untuk membiayai hidup keluarga saya??? tanya Onny kepada saya. Onny pun terlihat menundukkan kepalanya. Sambil Onny berkata lirih (lembut, pelan-pelan, tidak keras), ….. belum saya harus membayar uang kuliah anak saya, lanjut Onny. Bulan ini anak saya harus bayar uang kuliah!!!!, tambah Onny. Kali ini, Onny pun terlihat sedih …. terlihat pula mata Onny memerah menahan amarah bercampur sedih. Jika potongan-potongan untuk organisasi ini tidak ada sama sekali, mungkin sisa gaji saya masih cukup untuk membiayai kebutuhan keluargaku, keluh Onny.

Kesedihan Onny sepertinya membuat saya hanyut pula dalam kesedihannya, Cerita Onny membawa saya ……… !!!!!!!!. Saya pun menghentikan cerita kesedihan Onny dengan memberinya sesuatu yang Insha Allah dapat membantu setidaknya untuk bulan itu, dan saya tak tahu untuk bulan berikutnya. Onny pun pamitan seraya mengucapkan terima kasih ……., dan yang pasti ucapan terima kasih bukan untuk berbagai organisasi yang telah menguras sisa-sisa gajinya.

Selesai