Catatan Di akhir Kerja

YUSRAN LAPANANDA, SH. MH
Kepala Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan & Aset Daerah Kab. Gorontalo.

gold-trophy2Waktu itu saya menunggu dimulainya rapat yang diselenggarakan oleh salah satu SKPD. Seperti biasa di sela-sela sebelum dimulainya rapat, biasanya peserta rapat saling ngobrol sesamanya, ada juga yang melamun/menghayal/menerawang, ada pula yang asyik dengan mainannya “handphone”, tak ketinggalaan pula saya berkesempatan untuk membuka-buka dan membaca materi rapat berupa peraturan perundang-undangan yang berkenaan. Hmmmm…….., sepertinya ada salah seorang peserta memperhatikan saya dengan sekali-sekali dia melempar senyum kecut ke saya. Wahhhh….., sepertinya orang ini ingin menyampaikan sesuatu. Benar memang, saat saya membalas senyumannya seketika dia berdiri, berjalan mendekat, dan langsung mengambil tempat duduk dekat saya yang kebetulan masih kosong. Dan ternyata Onny orangnya. Tanpa ragu dan tanpa basa-basi Onny pun menyampaikan keprihatinannya.

Onny pun memulai ceritanya. Kejadian ini terjadi di salah satu SKPD berkenaan dengan penyampaian rekapitulasi daftar hadir bulanan ke SKPD yang mengurus kepegawaian/kehadiran SKPD. Sesaat itu saya mencela cerita Onny. Saya bertanya balik kepada Onny. Mengapa rekapitulasi kehadiran bulanan harus disampaikan kepada SKPD yang mengurus kepegawaian dan apa manfaatnya bagi mereka, serta apa dasar hukumnya? Onny menjawab dengan santai, tidak tahu. Saya pun memberi penjelasan kepada Onny bahwa tanggung jawab penuh terhadap kehadiran PNS itu ada pada Kepala SKPD masing-masing. Kenapa harus Kepala SKPD? Oleh karena awal dari proses penjatuhan disiplin PNS itu berjenjang di internal SKPD masing-masing, kecuali Kepala SKPD-nya menyerahkan penjatuhan sanksi kepada lembaga lain.

Sepertinya Onny ingin melanjutkan ceritanya berkenaan dengan penyampaian rekapitulasi daftar hadir bulanan. Bisa saya lanjutkan ceritanya??? Silahkan, jawabku. Saat itu, pegawai staf di salah satu SKPD yang menangani urusan rekapitulasi kehadiran PNS mengajukan rekapitulasi kehadiran bulanan beserta pengantarnya kepada Kepala SKPD untuk ditandatangani. Kepala SKPD ini sepertinya sangat disiplin dan teliti, sehingga lembar per lembar kertas surat yang diajukan kepadanya dibaca dan diteliti satu persatu. Kepala SKPD pun kaget ketika melihat rekapitulasi kehadiran PNS yang diajukan kepadanya sangat jauh berbeda dengan fakta dan kenyataan yang terjadi sehari-hari. Dia tahu benar banyak PNS yang bolos, izin dan sakit pada setiap bulan namun di dalam rekapitulasi sepertinya dia tidak menemukan PNS yang bolos, sakit maupun izin. Kepala SKPD ini benar-benar marah atas ulah stafnya. Sepertinya dibenaknya dia, stafnya akan menjebaknya ke dalam perbuatan yang tercela dengan menandatangani rekapitulasi kehadiran bulanan yang sangat berbeda dengan fakta dan kenyataan sehari-hari.

Amarah sang Kepala SKPD ini pun ditumpahkan kepada pegawai staf yang mengajukan rekapitulasi. “Kamu dan kalian mau menjebak saya ya…….”. Itulah kalimat yang keluar dari mulut sang Kepala SKPD. Pegawai staf dan beberapa staf/pejabat yang kebetulan berada di sekitar tempat itu terdiam dan menunduk ……. seolah-olah atau pura-pura mereka ketakutan. “Menjebak saya ya…….”, sepertinya sang Kepala SKPD butuh jawaban dalam bentuk pembelaan dari pegawai staf ini dan beberapa pejabat/pegawai staf lainnya yang berada di tempat itu. Sesekali sang Kepala SKPD memandang mereka satu persatu dan sesekali geleng-geleng kepala. Tak lama kemudian sang Kepala SKPD dengan suara merendah bertanya, “Kenapa kamu berbuat seperti ini?????” Sepertinya sang Kepala SKPD memberi peluang kepada pegawai staf ini untuk memberi penjelasan.

Begini pak. Jawab pegawai staf dengan memulai pembelaannya. Rekapitulasi kehadiran bulanan ini menjadi salah satu dasar untuk penilaian Anugerah Kepegawaian yang dilaksanakan setiap tahun dan diumumkan di khalayak. Kadang pula, di saat-saat tertentu langsung dibacakan pada saat apel Kopri atau pada acara-acara tertentu. Sangat malulah kita pak jika kita dicap sebagai SKPD yang paling banyak PNS bolos, izin dan sakit, dan yang paling malu adalah bapak. Lebih-lebih lagi kalau rekapitulasi kehadiran yang sesungguhnya yang disampaikan kepada SKPD yang mengurus kepegawaian, maka dipastikan nilai kita akan turun dan akibatnya kita tidak mendapatkan lagi Anugerah Kepegawaian yang selama ini sudah langganan kita terima setiap tahun. Begitulah pembelaan pegawai staf kepada atasannya, sang Kepala SKPD.

Sang Kepala SKPD pun terdiam, sepertinya dia memahami kepalsuan kehadiran untuk beroleh kehadiahan. Dan tanpa berkata apa-apa, mulailah sang Kepala SKPD menandatangani semua lembar per lembar kertas rekapitulasi kehadiran bulanan. Saat itu, si pegawai staf membisikkan kepada sang Kepala SKPD, “Bulan-bulan dan tahun-tahun sebelumnya ……. rekapitulasi kehadiran saya buat begini juga pak, sehingga kita mendapatkan Anugerah Kepegawaian”. Oooohhhhhhh … ya …. betul ….. betul….!!!!!!! Sepertinya sang Kepala SKPD sudah memahami/mengerti dan setuju atas kepalsuan rekapitulasi untuk meraih kehadiahan “Anugerah Kepegawaian”. Persetujuan sang Kepala SKPD ini disambut gelak tawa pegawai staf dan staf/pejabat berada di tempat itu dengan hu…ha…ha…ha….100x (terlalu lama gelak tawanya).

Onny pun menghentikan ceritanya, bersamaan dengan pimpinan rapat memasuki ruangan rapat dan rapat pun dimulai.

Selesai