Catatan Diakhir Kerja

YUSRAN LAPANANDA, SH. MH
Pecandu Imajiner

imajinasi

Hari itu, saat saya membuka akun umpan pada BBM terlihat dan terbaca status Onny, “seandainya aku kepala daerah”, dengan ditambah tampilan gambar sedih, marah dan menangis. Onny adalah salah seorang staf pada suatu SKPD. Yang saya tahu Onny adalah orang cerdas dalam mengolah untaian kata-kata baik dalam statusnya maupun dalam bbm nya. Walaupun saya anggap Onny kocak, namun Onny punya prinsip pada kehidupan yang baik-baik dan tidak akan mengingkari hati nuraninya.

Saya benar-benar dibuat penasaran dengan status Onny ini. Saya coba untuk bertanya, ada apa dengan status ini. Lama Onny tidak menjawab. Beberapa saat kemudian, Onny membalasnya. Boleh saya telpon bapak, silahkan jawab saya. Tak lama kemudian terdengar nada dering dari Onny dan dengan cepat saya terima telponnya.

Mulailah Onny bercerita tentang statusnya “seandainya aku kepala daerah”. Di kantornya, Onny saat itu disingkirkan oleh bosnya. Tidak diperhatikan lagi, tidak diberi job. Jika bersua dengan bosnya, Onny berusaha untuk menegurnya walaupun dengan mimik dan senyum penuh bersahabat dan rujuk, namun bosnya seolah-olah tak tahu dengan tatapan Onny kepadanya. Tatapannya kepada Onny benar-benar hampa. Hampa, tapi bukan judul lagunya Ari Lasso, kocak Onny saat itu. Onny, benar-benar dibuat tertekan oleh bosnya.

Kenapa, kamu diperlakukan seperti ini tanyaku. Itulah pak, saya ini dianggap oleh bosku pemberontak karena tidak bisa diajak bersekutu/berkompromi ke dalam hal-hal yang menjurus pada penyimpangan perilaku dan penyimpangan anggaran yang terjadi di lingkungan kantorku. Sebenarnya, jika diprosentasi dari jumlah pegawai di kantorku, sebanyak 80% pegawai yang tidak suka dengan kebijakannya (penyimpangan perilaku dan penyimpangan anggaran). Hanya tersisa kurang lebih 20% pegawai yang pro ke Dia. Yang 20% itu adalah orang-orangnya yang tergolong para pencari muka, kata Onny dengan nada suara yang meninggi.
Di dalam penyimpangan perilakunya, bosku sangat marah terhadap stafnya yang terlambat dan cepat pulang sebelum waktunya. Di sisi lain, bosku ini tak pernah datang tepat waktu, malahan sering kali bosku datang di atas jam 09.00 WITA. Namun, setiap kali bosku datang terlambat bosku masuk kantor tanpa rasa malu, dan melangkah masuk ke ruangannya dengan angkuhnya. Dari kesejahteraan pegawaipun, tak pernah dihiraukan dan dipikirkannya. Demikian pula, soal perjalanan dinas keluar daerah. Jika di SKPD lain, hampir semua pegawai sudah diberangkatkan keluar daerah, di SKPD-ku hampir semua pegawai belum diberangkatkan. Yang sering diajaknya hanya konco-konconya.

Di dalam penyimpangan anggaran pun semakin memprihatinkan. Bosku menghimpun sisa-sisa anggaran mulai dari belanja ATK, belanja pengadaan konsumsi ringan maupun konsumsi berat sampai dengan belanja modal (kursi, lemari, sofa, komputer, laptop, dan lain-lain). Tak puas dengan itu, bosku pun memotong hak-hak pegawai baik dari kegiatan belanja perjalanan dinas dalam daerah sampai dengan honor-honor pegawai pun dikebiri, dengan satu alasan untuk dana taktis. Ya, dana taktis yang sampai saat ini kami pun tak tahu ke mana penggunaannya.

Bosku benar-benar pemain sinetron dan sandiwara yang cerdik. Dari tahun ke tahun dana taktis terkumpul, dan sampai saat ini tidak tahu kemana dana taktis itu mengalir. Naudzubllahi min dzalik. Mungkin, inilah sebabnya Onny mau disingkirkan oleh Bosnya. Jika ditanya hampir semua staf tidak suka dengan kepemimpinannya. Namun kami sadar posisinya sangat kuat di hadapan para pengambil keputusan.

Dengan keprihatinan, emosi dan amarah ini Onny hanya mampu menulis keluh kesahnya melalui statusnya, “seandainya aku kepala daerah maka Onny akan bertindak untuk segera mengganti pejabat ini dari jabatan di SKPD Onny”. Tapi itu sesuatu yang tak mungkin terjadi, mana mungkin Onny yang hanya staf bisa jadi Kepala Daerah, apalagi baik UU ASN maupun UU Pilkada mengharamkan PNS mencalonkan/dicalonkan menjadi Kepala Daerah kecuali mundur dari PNS. Onny hanya bisa mengeluh, prihatin dan menggelus dada dan tak berdaya menghadapi dan melawan kekuatan yang sangat besar yang dihadapinya. Dan hanya melalui statusnya “seandainya aku kepala daerah” Onny lakukan untuk menghibur dirinya.

Terdengar, suara Onny melalui telponnya terbata-bata, sudah … Sudah …., sepertinya Onny mengakhiri keluhan dan keprihatinannya dengan tangisan …………

Selesai